fakta wahabi
Bertabaruk dengan atsar/peninggalan orang shaleh, seperti para nabi dan para wali termasuk Sunnah Rasul SAW, yang diamalkan sejak generasi Salaf, ahli hadits dan mayoritas umat Islam. Kaum Wahabi dengan melarang tabaruk dengan atsar/peninggalan orang-orang Shaleh, berarti mereka menentang Sunnah Rasul SAW. Berikut dialognya.

WAHABI: “Mengapa banyak kami temukan kaum Anda yang mengaku ASWAJA, tetapi justru tidak memelihara jenggot yang dihukumi Sunnah, dan justru membersihkan jenggot yang hukumnya makruh?”

SUNNI: “Ah, masih lebih ringan melakukan makruh, daripada menghujat dan membid’ahkan ajaran Sunnah Rasul SAW, seperti aliran kamu wahai kaum Wahabi.”

WAHABI: “Sunnah Rasul SAW yang mana yang kami hujat dan kami bid’ahkan?”

SUNNI: “Anda tahu sahabat Nabi SAW terkemuka, Sayyidina Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma sasaran kritik Wahabi sebagai pelaku bid’ah dan mengajarkan kesyirikan. Hal ini karena selalu melakukan napak tilas terhadap sejarah kehidupan Rasulullah SAW dan bertabaruk dengan atsar-nya. Setiap tempat yang pernah disinggahi Rasulullah SAW untuk menunaikan shalat, Ibnu Umar SAW akan mendatangi tempat tersebut untuk menunaikan shalat.”

WAHABI: “Owh, kalau begitu Anda tidak faham, mengapa kami menolak napak tilas dan tabaruk dengan atsar seperti yang Anda maksudkan. Begini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan:

وَتَحَرِّيْ هَذَا لَيْسَ مِنْ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، بَلْ هُوَ مِمَّا ابْتَدَعَ، وَقَوْلُ الصَّحَابِيِّ إِذَا خَالَفَهُ نَظِيْرُهُ، لَيْسَ بِحُجَّةٍ، فَكَيْفَ إِذَا انْفَرَدَ بِهِ عَنْ جَمَاهِيْرِ الصَّحَابَةِ اهـ (اِبْنُ تَيْمِيَّةَ، اِقْتِضَاءُ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ ۲/۲٧٩). فَلَمَّا لَمْ يَكُوْنُوْا يَلْتَفِتُوْنَ إِلىَ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ؛ عُلِمَ أَنَّهُ مِنَ الْبِدَعِ الْمُحْدَثَةِ، الَّتِيْ لَمْ يَكُوْنُوْا يَعُدُّوْنَهَا عِبَادَةً وَقُرْبَةً وَطَاعَةً، فَمَنْ جَعَلَهَا عِبَادَةً وَقُرْبَةً وَطَاعَةً فَقَدِ اتَّبَعَ غَيْرَ سَبِيْلِهِمْ، وَشَرَعَ مِنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ اهـ (اِقْتِضَاءُ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ ۲/۳۳٥). تَخْصِيصُ ذَلِكَ الْمَكَانِ بِالصَّلَاةِ مِنْ بِدَعِ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّتِي هَلَكُوا بِهَا وَنَهَى الْمُسْلِمِينَ عَنْ التَّشَبُّهِ بِهِمْ فِي ذَلِكَ فَفَاعِلُ ذَلِكَ مُتَشَبِّهٌ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي الصُّورَةِ وَمُتَشَبِّهٌ بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فِي الْقَصْدِ الَّذِي هُوَ عَمَلُ الْقَلْبِ اهـ (مَجْمُوْعُ فَتَاوَى ابْنِ تَيْمِيَّةَ، ۱/۲٨۱).
“Kesengajaan Ibnu Umar ini (dalam mengikuti jejak Nabi SAW) bukan termasuk Sunnah Khulafaur Rasyidin, bahkan termasuk bid’ah yang dimulainya. Pendapat seorang sahabat, apabila diselesihi oleh orang yang setaranya tidak menjadi hujjah. Lalu bagaimana apabila ia menyendiri dengan pendapat tersebut, dari mayoritas sahabat.” (Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, 2/279). “Ketika mereka tidak menoleh terhadap hal itu, maka diketahui bahwa itu termasuk bid’ah yang baru yang tidak mereka anggap sebagai ibadah, qurbah dan ketaatan. Barangsiapa yang menjadikannya sebagai ibadah, qurbah dan ketaatan, maka ia telah mengikuti selain jalan para sahabat dan membuat syariat dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah”. (2/335). “Menentukan tempat tersebut untuk shalat termasuk bid’ahnya ahli-kitab (Yahudi dan Nasrani) yang menyebabkan mereka celaka dan kaum Muslimin dilarang menyerupai mereka dalam hal tersebut. Orang yang melakukannya, menyerupai Nabi SAW dalam gambaran, tetapi menyerupai Yahudi dan Nasrani dalam tujuan yang merupakan perbuatan hati.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah, 1/281).
Bagaimana, Apakah Anda dapat menerima penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, satu-satunya Syaikhul Islam di dunia Islam yang tiada taranya?”

SUNNI: “Kalau saya bisa menyimpulkan dari pernyataan Ibnu Taimiyah (maaf, kami keberatan menyebut beliau Syaikhul Islam) di atas dalam mengomentari Ibnu Umar yang selalu melakukan napak tilas sejarah dan perjalanan hidup Rasulullah SAW, sepertinya memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut;

1) Perbuatan Ibnu Umar bukan Sunnah Khulafaur Rasyidin

2) Perbuatan tersebut termasuk bid’ah tercela yang dilakukan Ibnu Umar dan berbeda dengan pendapat mayoritas sahabat.

3)Perbuatan Ibnu Umar termasuk mengikuti selain jalan para sahabat dan termasuk membuat syariat baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah

4) Perbuatan tersebut termasuk bid’ah ahli-kitab, Yahudi dan Nasrani yang menyebabkan mereka celaka.

5) Secara lahiriah, Ibnu Umar meneladani Nabi SAW, tetapi sebenarnya ia meneladani Yahudi dan Nasrani dalam perbuatan hati.

WAHABI: “Ya betul. Kalau begitu Anda langsung menangkap dengan baik maksud pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.”

SUNNI: “Walaupun saya dapat menyimpulkan pernyataan Syaikhul Islam kalian, tapi kami tidak sepakat dengan pernyataan tersebut.”

WAHABI: “Mengapa Anda tidak sepakat?”

SUNNI: “Dalam kesimpulan tersebut kalian menggambarkan sahabat Abdullah bin Umar, seorang sahabat yang disaksikan termasuk orang saleh oleh Rasulullah SAW, dalam kacamata Ibnu Taimiyah dan Wahabi digambarkan sebagai seorang ahli bid’ah dan penggemar bid’ah kaum Yahudi dan Nasrani. Seandainya yang menggambarkan sosok Ibnu Umar tersebut, seorang Syiah yang membenci para sahabat, tentu kami akan memaklumi. Akan tetapi di sini, gambaran tersebut justru datang dari kalian kaum Wahabi yang sangat keras memerangi aliran Syiah dan mengklaim membela sahabat. Ternyata kalian sama saja dengan Syiah. Diam-diam menghujat sahabat Nabi SAW, sebagai pelaku bid’ah.”

WAHABI: “Maaf, kami kaum Wahabi menghujat beliau, karena beliau penyebar bid’ah penganut Yahudi dan Nasrani, dengan ijtihadnya yang salah total dan syirik, yaitu selalu melakukan napak tilas dan mendatangi tempat-tempat yang pernah didatangi oleh Rasulullah SAW. Itu jelas bid’ah dan syirik.”

SUNNI: “Jadi menurut kalian, melakukan napak tilas terhadap jejak dan kehidupan Rasulullah SAW seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar bukan Sunnah Rasul SAW, Khulafaur Rasyidin dan termasuk bid’ah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang dilakukan oleh Ibnu Umar?”

WAHABI: “Ya betul.”

SUNNI: “Owh, kalau begitu kalian telah dibohongi dan dibodohi oleh Syaikh Ibnu Taimiyah, yang kalian anggap sebagai Syaikhul Islam tersebut. Justru apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar termasuk Sunnah Rasulullah SAW dan Sunnah para sahabat dan generasi Salaf.”

WAHABI: “Anda lancang sekali, menganggap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pembohong dan membodohi umat. Beliau panutan nomer wahid, setelah kaum Salaf. Mana buktinya bahwa Syaikhul Islam berbohong? Dan bahwa perbuatan Ibnu Umar termasuk Sunnah Rasul SAW dan kaum Salaf? Anda jangan hanya berbicara, tapi jelaskan buktinya.”

SUNNI: “Pernyataan Anda membuktikan kalau Ibnu Taimiyah itu kalian anggap ma’shum, tidak pernah salah dan tidak pernah lupa. Ini buktinya, Anda perhatikan baik-baik. Di antara bukti-bukti bahwa perbuatan Ibnu Umar termasuk Sunnah Rasulullah SAW adalah hadits-hadits shahih berikut ini:

1. Hadits Anas bin Malik

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: "أُتِيْتُ بِدَابَّةٍ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُوْنَ الْبَغْلِ، خَطْوُهَا عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهَا، فَرَكِبْتُ وَمَعِيْ جِبْرِيْلُ عليه السلام فَسِرْتُ فَقَالَ: اِنْزِلْ فَصَلِّ. فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِيْ أَيْنَ صَلَّيْتَ؟ صَلَّيْتَ بِطَيْبَةَ وَإِلَيْهَا الْمُهَاجَرُ، ثُمَّ قَالَ: اِنْزِلْ فَصَلِّ. فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِيْ أَيْنَ صَلَّيْتَ؟ صَلَّيْتَ بِطُوْرِ سِيْنَاءَ، حَيْثُ كَلَّمَ اللهُ مُوْسَى عليه السلام ، ثُمَّ قَالَ: اِنْزِلْ فَصَلِّ. فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِيْ أَيْنَ صَلَّيْتَ. صَلَّيْتَ بِبَيْتِ لَحْمٍ، حَيْثُ وُلِدَ عِيْسَى عليه السلام. (حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَالطَّبَرَانِيُّ وَابْنُ عَسَاكِرَ. قَالَ الْحَافِظُ فِي اْلإِصَابَةِ وَابْنُ كَثِيْرٍ فِي الْبِدَايَةِ وَالنِّهَايَةِ: إِسْنَادُهُ لاَ بَأْسَ بِهِ وَلَهُ شَاهِدٌ عِنْدَ الْبَيْهَقِيُّ وَصَحَّحَهُ مِنْ حَدِيْثِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ اْلآَتِيْ).
“Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku didatangkan hewan di atas keledai dan di bawah bagal. Langkahnya sejauh pandangannya. Lalu aku menaikinya. Dan Jibril AS menyertaiku. Lalu aku berangkat. Lalu Jibril berkata: “Turunlah, lakukan shalat.” Lalu akan melakukannya. Ia berkata: “Tahukan kamu, di mana kamu menunaikan shalat? Di Thaibah, tempatmu berhijrah.” Lalu ia berkata: “Turunlah, lakukanlah shalat.” Lalu aku melakukannya. Ia berkata: “Tahukah kamu, di mana kamu menunaikan shalat? Kamu menunaikan shalat di Tur Sina, tempat Allah berbicara kepada Musa AS.” Lalu ia berkata: “Turunlah, lakukanlah shalat.” Lalu aku turun dan melakukan shalat. Ia berkata: “Tahukah kamu, di mana kamu shalat? Kamu shalat di Betlehem, tempat Isa AS dilahirkan.”
Lihat: Sunan al-Nasa’i (1/221-222); al-Thabarani, Musnad al-Syamiyyin (1/194); dan Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq (65/281). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam al-Ishabah (4/764): “Diriwayatkan oleh al-Nasa’i dari Anas secara marfu’, dengan sanad yang bagus, dan memiliki penguat dalam riwayat al-Baihaqi dari haditsnya Syaddad bin Aus.” Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (2/66): “Diriwayatkan oleh al-Nasa’i dengan sanad yang bagus dari Anas, dan al-Baihaqi dengan sanadnya dan menilainya shahih.”

2. Hadits Syaddad bin Aus

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ أُسْرِيَ بِكَ ؟ قَالَ: صَلَّيْتُ لِأَصْحَابِي صَلَاةَ الْعَتْمَةِ بِمَكَّةَ مُعَتَّمًا، فَأَتَانِي جِبْرِيلُ عليه السلام بِدَابَّةٍ بَيْضَاءَ، فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ، فَقَالَ: ارْكَبْ فَاسْتَصْعَبَ عَلَيَّ، فَرَازَهَا بِأُذُنِهَا، ثُمَّ حَمَلَنِي عَلَيْهَا، فَانْطَلَقَتْ تَهْوِي بِنَا، يَقَعُ حَافِرُهَا حَيْثُ أَدْرَكَ طَرْفُهَا، حَتَّى بَلَغْنَا أَرْضًا ذَاتَ نَخْلٍ، فَأَنْزَلَنِي، فَقَالَ: صَلِّ، فَصَلَّيْتُ، ثُمَّ رَكِبْنَا، فَقَالَ: أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ ؟ صَلَّيْتَ بِيَثْرِبَ، صَلَّيْتَ بِطِيبَةَ، فَانْطَلَقَتْ تَهْوِي بِنَا، يَقَعُ حَافِرُهَا حَيْثُ أَدْرَكَ طَرْفُهَا، ثُمَّ بَلَغْنَا أَرْضًا، فَقَالَ: انْزِلْ فَصَلِّ، فَفَعَلْتُ، ثُمَّ رَكِبْنَا. قَالَ: أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ ؟ قُلْتُ: اللَّهُ أَعْلَمُ. قَالَ: صَلَّيْتَ بِمَدْيَنَ عِنْدَ شَجَرَةِ مُوسَى عليه السلام. ثُمَّ انْطَلَقَتْ تَهْوِي بِنَا، يَقَعُ حَافِرُهَا حَيْثُ أَدْرَكَ طَرْفُهَا، ثُمَّ بَلَغْنَا أَرْضًا بَدَتْ لَنَا قُصُورٌ، فَقَالَ: انْزِلْ، فَصَلَّيْتُ وَرَكِبْنَا. فَقَالَ لِي: صَلَّيْتَ بِبَيْتِ لَحْمٍ حَيْثُ وُلِدَ عِيسَى عليه السلام. (رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَالْبَزَّارُ وَابْنُ جَرِيْرٍ الطَّبَرِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّلاَئِلِ وَقَالَ إِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ).
“Syaddad bin Aus berkata: “Kami berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana prosesnya engkau di-isra’-kan?” Beliau menjawab: “Aku menunaikan shalat isya’ bersama para sahabatku di Makkah pada waktu malam telah gelap. Lalu Jibril AS mendatangiku membawa hewan berwarna putih, di atas keledai dan di bawah bagal. Ia berkata: “Naiklah.” Ternyata hewan itu sulit bagiku. Lalu Jibril mengangkat telinga hewan itu, kemudian ia membawaku ke atasnya. Lalu ia berangkat terbang membawa kami. Kakinya akan menjangkau sejauh pandangannya. Kemudian kami sampai pada suatu daerah yang memiliki perkebunan kurma. Lalu Jibril menurunkanku. Ia berkata: “Shalatlah.” Lalu aku shalat. Kemudian kami menaiki. Lalu ia berkata: “Tahukah kamu, di mana kamu shalat? Kamu shalat di Yatsrib, di Thaibah.” Lalu kendaraan itu berangkat terbang membawa kami, kakinya akan menjangkau sejauh pandangannya. Kemudian kami sampai pada suatu daerah. Ia berkata: “Turunlah, dan shalatlah.” Lalu aku melakukannya. Kemudian kami menaiki. Ia berkata: “Tahukah kamu, di mana kamu shalat?” Aku berkata: “Allah yang lebih mengetahui.” Ia berkata: “Kamu shalat di Madyan, di samping pohon Musa AS.” Lalu kendaraan itu berangkat terbang membawa kami. Kakinya akan menjangkau sejauh pandangannya. Kemudian kami sampai pada suatu daerah, yang tampak gedung-gedung pada kami. Ia berkata: “Turunlah, dan shalatlah.” Lalu aku shalat. Lalu kami menaiki. Ia berkata: “Kamu shalat di Betlehem, tempat kelahiran Isa AS.”
Al-Bazzar, al-Bahr al-Zakhkhar [2969]; Ibnu Jarir al-Thabari, Tahdzib al-Atsar [2448]; al-Thabarani, al-Mu’jam al-Kabir [6999], Musnad al-Syamiyyin [1885]; Fawaid Ibn Bisyran [100]; al-Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah (2/355, [675]).

Kedua hadits di atas sangat jelas menganjurkan shalat di tempat-tempat yang mulia dan utama, serta anjuran agar meneliti peninggalan dan jejak para nabi dan orang saleh, seperti tempat kelahiran Nabi Isa AS dan lain-lain.

3. Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma (yang dihujat Wahabi)

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عِمْرَانَ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ قَالَ: عَدَلَ إِلَيَّ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ وَأَنَا نَازِلٌ تَحْتَ سَرْحَةٍ بِطَرِيقِ مَكَّةَ، فَقَالَ: مَا أَنْزَلَكَ تَحْتَ هَذِهِ السَّرْحَةِ ؟ فَقُلْتُ: أَرَدْتُ ظِلَّهَا فَقَالَ: هَلْ غَيْرَ ذَلِكَ ؟ فَقُلْتُ: لا، مَا أَنْزَلَنِي إِلا ذَلِكَ. فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا كُنْتَ بَيْنَ الأَخْشَبَيْنِ مِنْ مِنًى وَنَفَخَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ، فَإِنَّ هُنَاكَ وَادِيًا يُقَالُ لَهُ: السُّرَرُ، بِهِ شَجَرَةٌ سُرَّ تَحْتَهَا سَبْعُونَ نَبِيًّا. (حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ رَوَاهُ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّإِ وَأَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الْكُبْرَى).
“Dari Muhammad bin Imran al-Anshari, dari ayahnya, berkata: “Abdullah bin Umar berpaling kepadaku, ketika aku singgah di bawah pohon besar di jalan menuju Makkah. Lalu ia berkata: “Apa yang mendorongmu singgah di bawah pohon besar ini?” Aku berkata: “Aku ingin berteduh.” Ia berkata: “Apakah ada maksud lain?” Aku berkata: “Tidak, aku hanya bermaksud berteduh saja.” Lalu Ibnu Umar berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu berada di antara dua gunung di Mina –dan beliau menunjukkan tangannya ke arah timur-, sesungguhnya di sana terdapat lembah yang disebut Surar. Di situ ada pohon, tempat kelahiran tujuh puluh nabi.”
Lihat: al-Imam Malik, al-Muwaththa’ (1/423); Ahmad, al-Musnad (2/138); Sunan al-Nasa’i (5/248); Shahih Ibn Hibban (14/137); dan al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra (5/139, 2/417).

Dalam hadits tersebut, sangat jelas bahwa Rasulullah SAW memotivasi Ibnu Umar agar mengunjungi tempat peninggalan para nabi ‘alaihimussalam. Seandainya mengunjungi tempat-tempat peninggalan para nabi termasuk bid’ah yang tercela, sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyah dan Salafi-Wahabi, tentu Rasulullah SAW tidak akan menunjukkan tempat Surar tersebut kepada Ibnu Umar dan tidak akan mendorongnya untuk mengunjunginya.

4. Hadits Abdullah bin Umar

عَنْ عَبْد اللهِ بْن عُمَرَ أَنَّ النَّاسَ نَزَلُوا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَرْضَ ثَمُودَ الْحِجْرَ فَاسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا وَاعْتَجَنُوا بِهِ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُهْرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا وَأَنْ يَعْلِفُوا الْإِبِلَ الْعَجِينَ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَسْتَقُوا مِنْ الْبِئْرِ الَّتِي كَانَتْ تَرِدُهَا النَّاقَةُ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ).
“Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya orang-orang singgah bersama Rasulullah SAW di Hijir, negeri kaum Tsamud. Mereka mengambil air dari sumur di sana dan menggunakannya untuk mengadon tepung. Rasulullah SAW memerintahkan mereka agar membuang air yang mereka ambil dari sumur di sana. Dan memerintahkan agar adonan tepung tadi diberikan kepada unta. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan mereka agar menggunakan air dari sumur yang disinggahi oleh unta (Nabi Shaleh AS).” (HR Bukhari [3379] dan Muslim [2981]).
5. Hadits Itban bin Malik

عَنْ مَحْمُودٍ بْنِ الرَّبِيعِ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ وَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي وَأَنَا أُصَلِّي لِقَوْمِي فَإِذَا كَانَتْ الْأَمْطَارُ سَالَ الْوَادِي الَّذِي بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ آتِيَ مَسْجِدَهُمْ فَأُصَلِّيَ بِهِمْ وَوَدِدْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَنَّكَ تَأْتِينِي فَتُصَلِّيَ فِي بَيْتِي فَأَتَّخِذَهُ مُصَلًّى قَالَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم سَأَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللهُ قَالَ عِتْبَانُ فَغَدَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبُو بَكْرٍ حِينَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَأَذِنْتُ لَهُ فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ قَالَ فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ الْبَيْتِ فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكَبَّرَ فَقُمْنَا فَصَفَّنَا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ).
“Dari Mahmud bin al-Rabi' al-Anshari, bahwa 'Itban bin Malik -seorang sahabat Nabi SAW yang turut serta dalam perang badar, dari kaum Anshar- pernah menemui Rasulullah SAW seraya berkata; "Wahai Rasulullah, aku tidak lagi percaya terhadap penglihatanku (pandangan sudah kabur) dan aku terbiasa shalat mengimami kaumku, jika hujan turun, maka lembah yang berada antara aku dan mereka mengalir deras, sehingga aku tak bisa mendatangi masjid mereka dan shalat mengimami mereka. Aku sangat berkeinginan sekiranya anda datang dan shalat di rumahku, sehingga aku menjadikannya sebagai mushalla. Beliau bersabda: "Baiklah, saya akan datang insya Allah." Itban berkata; "Lalu Rasulullah SAW berangkat bersama Abu Bakr al-Shiddiq ketika hari agak siang. Rasulullah SAW meminta izin, setelah aku memberinya izin, beliau tidak duduk hingga masuk rumah, kemudian beliau bertanya: "Dimanakah engkau menginginkan supaya aku shalat di rumahmu?" Maka aku tunjukan ke sudut rumah. Rasulullah SAW pun berdiri dan bertakbir, lalu kami berdiri di belakangnya dan beliau mendirikan shalat dua rakaat, kemudian beliau mengucapkan salam." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadits tersebut menjadi dalil anjuran bertabaruk dengan tempat-tempat yang pernah disinggahi oleh Nabi SAW. Seandainya menunaikan shalat di tempat yang pernah disinggahi Nabi SAW termasuk bid’ah yang tercela sebagaimana pandangan Ibnu Taimiyah dan Salafi-Wahabi, tentu Nabi SAW akan menolak permintaan ‘Itban bin Malik dan akan menjelaskan bahwa permintaannya termasuk bid’ah yang tercela. Akan tetapi Nabi SAW justru memenuhi permintaan ‘Itban bin Malik untuk menunaikan shalat di rumahnya, agar dijadikan tempat shalat olehnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

وَفِيْهِ التَّبَرُّكُ بِالْمَوَاضِعِ الَّتِيْ صَلىَّ فِيْهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَوْ وَطِئَهَا وَيُسْتَفَادُ مِنْهُ أَنَّ مَنْ دُعِيَ مِنَ الصَّالِحِيْنَ لِيُتَبَّرَكَ بِهِ أَنَّهُ يُجِيْبُ إِذَا أَمِنَ الْفِتْنَةَ اهـ (فتح الباري).
“Hadits tersebut mengandung hukum tabaruk dengan tempat-tempat yang pernah ditempati shalat oleh Nabi SAW atau pernah diinjaknya. Dari hadits tersebut juga diambil faedah, bahwa orang shaleh yang diminta untuk dijadikan sarana tabaruk, hendaknya menerima apabila aman dari fitnah.” Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (1/522).
Permintaan serupa juga dilakukan oleh sahabat Ummu Sulaim dalam hadits berikut ini.

6. Hadits Ummu Sulaim

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ سَأَلَتْ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَأْتِيَهَا فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهَا فَتَتَّخِذَهُ مُصَلًّى فَأَتَاهَا فَعَمِدَتْ إِلَى حَصِيرٍ فَنَضَحَتْهُ بِمَاءٍ فَصَلَّى عَلَيْهِ وَصَلَّوْا مَعَهُ. (رَوَاهُ النَّسَائِيُّ).
“Dari Anas bin Malik, bahwa Ummu Sulaim meminta Rasulullah SAW untuk mendatanginya, lalu menunaikan shalat di rumahnya untuk dijadikan tempat shalat. Lalu Rasulullah SAW mendatanginya. Lalu Ummu Sulaim mengambil alas, lalu membasahinya dengan air. Lalu Rasulullah SAW shalat di atas alas tersebut dan orang-orang shalat bersama beliau.”
7. Hadits Abdullah bin Umair al-Sadusi

عَنْ عَمْرِو بْنِ شَقِيْقِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَيْرٍ السَّدُوْسِيِّ قَالَ حَدَّثَنِيْ أَبِيْ عَنْ جَدِّيْ : اَنَّهُ جَاءَ بِإِدَاوَةٍ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَدْ غَسَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِيْهَا وَجْهَهُ وَمَضْمَضَ فِيْهِ وَبَزَقَ فِي الْمَاءِ وَغَسَلَ يَدَيْهِ وَذِرَاعَيْهِ ثُمَّ مَلأَ اْلإِدَاوَةَ وَقَالَ لاَ تَرِدَنَّ مَاءً إِلاَّ مَلأْتَ اْلإِدَاوَةَ عَلىَ مَا بَقِيَ فِيْهَا فَإِذَا أَتَيْتَ بِلاَدَكَ فَرُشَّ بِهِ تِلْكَ الْبُقْعَةَ وَاتَّخِذْهُ مَسْجِدًا قَالَ فَاتَّخَذُوْهُ قَالَ عَمْرٌو وَقَدْ صَلَّيْتُ أَنَا فِيْهِ. (رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي اْلأَوْسَطِ وَالدَّيْلَمِيُّ فِي الْفِرْدَوْسِ).
“Amr bin Syaqiq bin Abdullah bin Umair al-Sadusi berkata: “Ayahku telah bercerita kepadaku, dari kakekku, bahwa ia datang membaca kantong kulit dari Nabi SAW, dimana Nabi SAW telah membasuh wajah dan berkumur di dalamnya, meludah di dalam air tersebut, membasuh kedua tangan dan hastanya, kemudian memenuhinya dengan air dan bersabda: “Janganlah kamu mendatangi air, kecuali kamu penuhi sisa air yang ada di dalamnya. Apabila kamu mendatangi daerahnya, maka siramkanlah airnya ke tanah tersebut dan jadikanlah sebagai masjid.” Kakekku berkata: “Lalu mereka menjadikan tanah tersebut sebagai masjid.” Amr berkata: “Sungguh aku telah shalat di Masjid tersebut.” (HR. al-Thabarani, al-Mu’jam al-Ausath (2/271 [1957]); dan al-Dailami, Musnad al-Firdaus (5/159).
Demikian beberapa hadits Nabi SAW yang membuktikan bahwa melakukan napak tilas dan bertabaruk dengan bekas dan peninggalan para nabi dan orang shaleh termasuk Sunnah Rasulullah SAW, dan bukan bid’ah tercela umat Yahudi dan Nasrani sebagaimana dalam asumsi Ibnu Taimiyah dan Salafi-Wahabi. Bahkan bertabaruk dengan bekas dan peninggalan Nabi SAW, tidak hanya dilakukan oleh Ibnu Umar sebagaimana dalam asumsi Ibnu Taimiyah dan Salafi-Wahabi. Bertabaruk dengan peninggalan dan bekas para nabi juga termasuk Sunnah Khulafaur Rasyidin, para sahabat dan kaum Salaf yang shaleh. Hal ini didasarkan pada beberapa riwayat berikut ini:

1. Salamah bin al-Akwa’

عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ قَالَ كُنْتُ آتِي مَعَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ فَيُصَلِّي عِنْدَ الْأُسْطُوَانَةِ الَّتِي عِنْدَ الْمُصْحَفِ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ أَرَاكَ تَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ قَالَ فَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَهَا. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ).
“Yazid bin Abi Ubaid berkata: “Aku datang bersama Salamah bin al-Akwa’, lalu ia menunaikan shalat di sampig tiang di sebelah Mushhaf. Aku berkata: “Wahai Abu Muslim, aku melihatmu memilih menunaikan shalat di samping tiang ini?” Ia berkata: “Aku melihat Nabi SAW memilih shalat di sampingnya.” (HR. al-Bukhari [502], dan Muslim [509]).
Dalam hadits di atas jelas sekali, Salamah bin al-Akwa’ mengerjakan shalat di samping tiang, karena Nabi SAW selalu menunaikan shalat di tempat tersebut.

2. Abdurrahman bin Shafwan

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَفْوَانَ قَالَ: لَمَّا فَتَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَكَّةَ قُلْتُ: لأَلْبَسَنَّ ثِيَابِيْ فَكَانَتْ دَارِيْ عَلىَ الطَّرِيْقِ، فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ إِلىَ أَنْ قَالَ: فَلَمَّا خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم سَأَلْتُ مَنْ كَانَ مَعَهُ: أَيْنَ صَلىَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ؟ قَالَ: رَكْعَتَيْنِ عِنْدَ السَّارِيَةِ الْوُسْطَى عَنْ يَمِيْنِهَا. قَالَ الْحَافِظُ الْهَيْثَمِيُّ فِي الْمَجْمَعِ: رَوَاهُ الْبَزَّارُ، وَفِيْهِ حَدِيْثُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ صَلىَّ رَكْعَتَيْنِ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيْحُ.
“Abdurrahman bin Shafwan berkata: “Setelah Rasulullah SAW menaklukkan Makkah, aku berkata: “Aku akan memakai bajuku. Rumahku ada di jalan.” Ia menyebutkan hadits, sampai berkata: “Setelah Rasulullah SAW keluar, aku bertanya kepada orang yang menyertainya: “Di mana Rasulullah SAW menunaikan shalat?” Ia berkata: “Dua raka’at di samping tiang tengah, di sebelah kanannya.” (Al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid (3/295): “Hadits riwayat al-Bazzar, di dalamnya terdapat hadits Umar bin al-Khaththab, bahwa ia shalat dua raka’at. Para perawinya adalah para perawi hadits shahih.”)
3. Muawiyah bin Abi Sufyan

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، أَنَّ مُعَاوِيَةَ قَدِمَ مَكَّةَ، فَدَخَلَ الْكَعْبَةَ، فَبَعَثَ إِلَى ابْنِ عُمَرَ: أَيْنَ صَلَّى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ فَقَالَ: صَلَّى بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ بِحِيَالِ الْبَابِ، فَجَاءَ ابْنُ الزُّبَيْرِ، فَرَجَّ الْبَابَ رَجًّا شَدِيدًا، فَفُتِحَ لَهُ، فَقَالَ لِمُعَاوِيَةَ: أَمَا إِنَّكَ قَدْ عَلِمْتَ أَنِّي كُنْتُ أَعْلَمُ مِثْلَ الَّذِي يَعْلَمُ، وَلَكِنَّكَ حَسَدْتَنِي. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَإِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ عَلىَ شَرْطِ مُسْلِمٍ.
“Dari Abdullah bin Abi Mulaikah, bahwa Muawiyah datang ke Makkah, lalu memasuki Ka’bah. Lalu mengirim seseorang kepada Ibnu Umar untuk bertanya, di mana Rasulullah SAW menunaikan shalat? Ibnu Umar menjawab: “Rasulullah SAW menunaikan shalat di antara dua tiang yang menghadap pintu.” Lalu Ibnu al-Zubair datang. Ia menggerakkan pintu dengan keras. Sehingga pintu dibukakan baginya. Lalu ia berkata kepada Muawiyah: “Sesungguhnya kamu tahu bahwa aku mengetahui seperti yang diketahui oleh Ibnu Umar. Tetapi kamu iri kepadaku.”
4. Khalifah Umar bin al-Khaththab

عَنْ أَبِيْ سِنَانٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ آَدَمٍ وَأَبِيْ مَرْيَمَ وَأَبِيْ شُعَيْبٍ: اَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ بِالْجَابِيَةِ فَذَكَرَ فَتْحَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ قَالَ فَقَالَ أَبُوْ سَلَمَةَ فَحَدَّثَنِيْ أَبُوْ سِنَانٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ آَدَمٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُوْلُ لِكَعْبٍ أَيْنَ تَرَى اَنْ أُصَلِّيَ فَقَالَ اِنْ أَخَذْتَ عَنِّيْ صَلَّيْتَ خَلْفَ الصَّخْرَةِ فَكَانَتِ الْقُدْسُ كُلُّهَا بَيْنَ يَدَيْكَ فَقَالَ عُمَرُ ضَاهَيْتَ الْيَهُوْدِيَّةَ لاَ وَلَكِنْ أُصَلِّيْ حَيْثُ صَلىَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَتَقَدَّمَ إِلَى الْقِبْلَةِ فَصَلىَّ ثُمَّ جَاءَ فَبَسَطَ رِدَاءَهُ فَكَنَسَ الْكُنَاسَةَ فِيْ رِدَائِهِ وَكَنَسَ النَّاسُ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالضِّيَاءُ الْمَقْدِسِيُّ فِي الْمُخْتَارَةِ وَابْنُ عَسَاكِرَ وَابْنُ قُدَامَةَ فِيْ فَضَائِلِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ. قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ كَثِيْرٍ فِي الْبِدَايَةِ وَالنِّهَايَةِ: إِسْنَادُهُ جَيِّدٌ).
“Dari Abu Sinan dari ‘Ubaid bin Adam dan Abu Maryam dan Abu Syu’aib bahwa ketika Umar bin al-Khaththab di Jabiyah, dia menyebutkan pembebasan kota Baitul Maqdis. Al-Aswad berkata; Abu Salamah berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Sinan dari ‘Ubaid bin Adam dia berkata; aku mendengar Umar bin al-Khaththab bertanya kepada Ka’ab; “Di mana menurutmu aku melaksanakan shalat?” Ka’ab menjawab; “Jika kamu menerima pendapatku shalatlah kamu di belakang batu besar, maka al-Quds semuanya akan berada di hadapanmu.” Umar berkata; “Kamu menyerupai orang-orang Yahudi. Tidak, akan tetapi aku akan shalat di tempat Rasulullah SAW shalat.” Dia maju dan menghadap ke arah Qiblat dan melaksanakan shalat, dia bentangkan selendangnya dan menyapu dengan selendangnya, kemudian orang-orang pun mengikuti menyapu juga.” (HR, Musnad Ahmad [261]; al-Dhiya’ al-Maqdisi, al-Mukhtarah (1/350-351 [241]); Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq (66/385-386); dan Ibnu Qudamah, Fadhail Bait al-Maqdis (hal. 87, [57]). Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (7/58): “Sanad hadits ini jayyid.”).
5. Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Khalifah Umar bin Abdul Aziz, termasuk salah satu Khulafaur Rasyidin menurut para ulama Salaf seperti al-Imam Sufyan, al-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan lain-lain. Ia telah berjasa besar mengabadikan tempat-tempat yang pernah disinggahi Nabi SAW untuk menunaikan shalat, dan membangun masjid di atasnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

قَدْ ذَكَرَ عُمَرُ بْنُ شَبَّةَ فِيْ أَخْبَارِ الْمَدِيْنَةِ الْمَسَاجِدَ وَاْلأَمَاكِنَ الَّتِيْ صَلَّى فِيْهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِيْنَةِ مُسْتَوْعِبًا وَرَوَى عَنْ أَبِيْ غَسَّانَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِنَّ كُلَّ مَسْجِدٍ بِالْمَدِيْنَةِ وَنَوَاحِيْهَا مَبْنِيٍّ بِالْحِجَارَةِ الْمَنْقُوْشَةِ الْمُطَابِقَةِ فَقَدْ صَلىَّ فِيْهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَذَلِكَ أَنَّ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ حِيْنَ بَنَى مَسْجِدَ الْمَدِيْنَةِ سَأَلَ النَّاسَ وَهُمْ يَوْمَئِذٍ مُتَوَافِرُوْنَ عَنْ ذَلِكَ ثُمَّ بَنَاهَا بِالْحِجَارَةِ الْمَنْقُوْشَةِ الْمُطَابِقَةِ أهـ وَقَدْ عَيَّنَ عُمَرُ بْنُ شُبَّةَ مِنْهَا شَيْئًا كَثِيْرًا لَكِنْ أَكْثَرُهُ فِيْ هَذَا الْوَقْتِ قَدِ انْدَثَرَ اهـ (فَتْحُ الْبَارِيْ).
“Umar bin Syabbah telah menyebutkan secara sempurna dalam Akhbar al-Madinah masjid-masjid dan tempat-tempat yang pernah ditempati shalat oleh Nabi SAW di Madinah. Ia meriwayatkan dari Abi Ghassan, dari beberapa orang ahli ilmu, bahwa setiap Masjid di Madinah dan sekitarnya yang dibangun dengan batu ukiran yang serasi, maka Nabi SAW pernah menunaikan shalat di situ. Hal tersebut terjadi karena ketika Umar bin Abdul Aziz membangun Masjid Madinah, ia bertanya kepada orang-orang (yang tahu), mereka pada saat itu banyak sekali, tentang tempat-tempat tersebut, kemudian membangunnya dengan batu ukiran yang serasi. Umar bin Syabbah telah menentukan banyak tempat dari hal tersebut, akan tetapi sebagian besar sekarang telah punah.” ( Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (1/571).
6. Ulama Salaf dan Ahli Hadits

قَالَ اْلإِمَامُ الْبُخَارِيُّ فِيْ صَحِيْحِهِ: بَاب الْمَسَاجِدِ الَّتِي عَلَى طُرُقِ الْمَدِينَةِ وَالْمَوَاضِعِ الَّتِي صَلَّى فِيهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم. عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ قَالَ رَأَيْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَتَحَرَّى أَمَاكِنَ مِنْ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُصَلِّي فِيهَا وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِي تِلْكَ الْأَمْكِنَةِ وَحَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الْأَمْكِنَةِ وَسَأَلْتُ سَالِمًا فَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا وَافَقَ نَافِعًا فِي الْأَمْكِنَةِ كُلِّهَا إِلَّا أَنَّهُمَا اخْتَلَفَا فِي مَسْجِدٍ بِشَرَفِ الرَّوْحَاءِ.
“Al-Imam al-Bukhari berkata dalam Shahih-nya: “Bab menerangkan masjid-masjid yang ada di jalan-jalan kota Madinah dan tempat-tempat yang pernah ditempati Nabi SAW untuk shalat. Musa bin Uqbah berkata: “Aku melihat Salim bin Abdullah selalu menuju beberapa tempat di jalan, lalu shalat di sana. Ia bercerita bahwa ayahnya shalat di sana, dan ia melihat Nabi SAW shalat di tempat-tempat tersebut. Nafi’ bercerita kepadaku dari Ibnu Umar, bahwa ia shalat di tempat-tempat tersebut. Aku bertanya kepada Salim, maka aku tidak mengetahuinya kecuali sepakat dengan Nafi’ mengenai semua tempat tersebut, hanya saja keduanya berbeda tentang Masjid di Syaraf al-Rauha’.”
Hadits di atas menjelaskan bahwa Abdullah bin Umar sering menunaikan shalat di tempat-tempat yang pernah disinggahi Nabi SAW untuk shalat. Kemudian prilaku Ibnu Umar tersebut diikuti oleh anaknya, Salim bin Abdullah bin Umar. Al-Imam al-Bukhari mengutip riwayat tersebut sebagai pertanda setuju terhadap apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar dan putranya, Salim. Berdasarkan logika Salafi-Wahabi yang mensyirikkan bertabaruk dengan bekas para nabi, berarti Salim bin Abdullah dan al-Imam al-Bukhari termasuk penyebar bid’ah yang tercela.

Demikian beberapa riwayat dari kaum sahabat dan generasi Salaf yang menegaskan bahwa bertabaruk dengan bekas dan peninggalan Nabi SAW merupakan Sunnah para sahabat dan kaum Salaf, tanpa terkecuali. Sedangkan pandangan Ibnu Taimiyah dan Salafi-Wahabi bahwa bertabaruk dengan bekas dan peninggalan Nabi SAW seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar, termasuk bid’ah tercela, mengikuti tradisi Yahudi dan Nasrani, bukan Sunnah Khulafaur Rasyidin dan sahabat, tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggujawabkan secara ilmiah.”

WAHABI: “Owh, ternyata Syaikhul Islam salah ya dalam ijtihadnya. Terus terang, saya tdk bisa menjawab hujah-hujah Anda yang cukup mematikan dan memuaskan. Tapi tunggu dulu, saya akan tanya kepada ustadz-ustadz kami kaum Wahabi, yang rata-rata pakar hadits dan bergelar doktor alumni Madinah. Barangkali mereka bisa menjawab.”

SUNNI: “Silahkan, anda konsultasi dengan ustadz-ustadz Anda, saya kasih waktu yang tidak terbatas untuk menanggapi argumen Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Dari sini jelas sekali kan, bahwa yang melestarikan ajaran Sunnah Rasul SAW, para sahabat, kaum salaf dan ahli hadits, bukan kalian, akan tetapi kami. Kalian justru menghujat Sunnah Rasul SAW, para sahabat dan kaum salaf. Kalian menghujat Sunnah dan menganggap nya sebagai bid’ah kaum Yahudi dan Nasrani. Itu semua akibat fanatisme buta kalian kepada Ibnu Taimiyah.”

Khusus para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tercinta, yang dihujat oleh Syiah dan Wahabi, kami katakan, radhiyallaahu ‘anhum ajma’iin wa nafa’anaa bi’uluumihim, aamiin.

Wassalam
Muhammad Idrus Ramli

0 komentar:

Post a Comment

 
Top