fakta wahabi
Ada sebuah kisah menarik yang sayang jika kita lewatkan, kisah ini tertulis dalam buku "Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi" karya Ustadz Muhammad Idrus Ramli. Tepatnya pada bab Bid'ah Hasanah, Mengangkat sebuah kisah mengenai Ustadz Ali Rahmat seorang Alumni Pondok Pesantren Assunniyah Kencong, Jember. (Ahlussunnah Wal jama'ah) dengan Ustadz Yazid Jawas (Ustadz Kebanggaan Wahabi Indonesia), yang menarik dari kisah ini adalah ternyata seorang Yazid Jawaz tidak siap untuk berdialog dengan Ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah Indonesia. Yang pasti bukan karena Kitab kitabnya sedang dipinjam oleh temannya atau laptop yang berisikan filenya itu rusak sehingga Ustadz Yazid ini kesulitan untuk mencari dalil bantahan kepada Aswaja, tapi dikarenakan Ustadz kebanggaan wahabi indonesia ini memang tidak mampu mempertanggung jawabkan kalam yang sering ia ucapkan.

Perlu diketahui kemarin saya memposting mengenai Dialog Terbuka Antara KH Muhammad Idrus Ramli asy-Syafi’i Dengan Ustadz Adzro’i Abdusysyukur as-Salafi yang pada akhirnya Ustadz Adzro’i Al Wahhabi ini mengeluarkan jurus langkah kaki seribu alias kabur melarikan diri secepat kilat.

Bisa dilihat videonya di sini :

Dialog Terbuka Antara KH Muhammad Idrus Ramli asy-Syafi’i Dengan Ustadz Adzro’i Abdusysyukur as-Salafi

Jika Ustadz Adzro'i Al Wahhabi itu sempat hadir pada dialog, walaupun akhirnya kabur juga sih, tapi berbeda halnya dengan Ustadz Jazid Jawas Al Wahhabi ini. Belum hadir, baru juga di ajak atau diundang, malah sudah pucat dan galau. Entah karena Takut atau Ustadz Yazid Jawas ini sedang mengamalkan pribahasa "Lempar batu sembunyi tangan" sehingga dia "Tidak Siap" untuk berdialog.

Suara lantangnya seorang Yazid Jawas Al Wahhabi ini yang biasanya dikenal sibuk membid'ahkan, menyesatkan, dan mengkafirkan umat islam diluar golongan Wahhabi itu ketika diajak berdialog seketika langsung panas dingin dan dengan pengecutnya berkata "Saya tidak siap". Langsung saja saya kutipkan kisah ini dan silahkan dilihat fakta dilapangannya bahwa memang Wahhabi ini adalah Tong kosong nyaring bunyinya.

Di Islamic Center Jakarta Utara

Ada kisah menarik berkaitan dengan bid’ah hasanah yang perlu diceritakan di sini. Kisah ini pengalaman pribadi Ali Rahmat, laki-laki gemuk yang sekarang tinggal di Jakarta Pusat. Beliau pernah kuliah di Syria setelah tamat dari Pondok Pesantren Assunniyah Kencong, Jember. Ali Rahmat bercerita, “Pada pertengahan 2009, kaum Wahhabi mengadakan pengajian di Islamic Center Jakarta Utara. Tampil sebagai pembicara, Yazid Jawas dan Abdul Hakim Abdat, dua tokoh Wahhabi di Indonesia.

Pada waktu itu, saya sengaja hadir bersama beberapa teman alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, antara lain Ustadz Abdussalam, Ustadz Abdul Hamid Umar dan Ustadz Mishbahul Munir. Ternyata, sejak awal acara, dua tokoh Wahhabi itu sangat agresif menyampaikan ajarannya tentang bid’ah. Setelah saya amati, Ustadz Yazid Jawas banyak berbicara tentang bid’ah. Menurut Yazid Jawas, bid’ah hasanah itu tidak ada. Semua bid’ah pasti sesat dan masuk neraka. Menurut Yazid Jawas, apapun yang tidak pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, harus ditinggalkan, karena termasuk bid’ah dan akan masuk neraka.

Di tengah-tengah presentasi tersebut saya bertanya kepada Yazid Jawas. “Anda sangat ekstrem dalam membicarakan bid’ah. Menurut Anda, apa saja yang belum pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu pasti bid’ah dan akan masuk neraka. Sekarang saya bertanya, Sayidina Umar bin al- Khaththab memulai tradisi shalat tarawih 20 raka’at dengan berjamaah, Sayidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali, sahabat-sahabat yang lain juga banyak yang membuat susunan-susunan dzikir yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sekarang saya bertanya, beranikah Anda mengatakan bahwa Sayidina Umar, Sayidina Utsman dan sahabat lainnya termasuk ahli bid’ah dan akan masuk neraka?” Mendengar pertanyaan saya, Yazid Jawas hanya terdiam seribu bahasa, tidak bisa memberikan jawaban. Setelah acara dialog selesai, saya menghampiri Yazid Jawas, dan saya katakan kepadanya, “Bagaimana kalau Anda kami ajak dialog dan debat secara terbuka dengan ulama kami. Apakah Anda siap?” “Saya tidak siap.” Demikian jawab Yazid Jawas seperti diceritakan oleh Ali Rahmat kepada saya.

Sumber : Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi karya Ustadz Muhammad Idrus Ramli
Segera miliki Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi karya Ustadz Muhammad Idrus Ramli ini, insyaallah sangat bermanfaat untuk menahan dari serangan serangan ajaran bid'ah wahhabi ini.

Bagi yang ingin mendownload buku ini silahkan klik link ini :

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi
Semoga bermanfaat.

85 komentar:

  1. Saya pernah mendengarnya kalau tentang masalah amirul mukminin Umar bin Khattab bukan termasuk bid'ah karena Rasulullah pun dulu melaksanakannya hanya tidak secara jama'ah. Tapi memang didalam tulisan ustad2 rodja lebih lantang ketimbang dalam dialog secara lisan bertatap muka seperti yang terjadi dalam perdebatan Habib Rizieq kala itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. pada kesimpulan kalam sayyidina Umar RA ni'matul bid'ah hadzihi. jika Ustadz Yazid bisa mempertanggung jawabkan harusnya siap sedia kapan saja untuk menjelaskan dan berdialog.. tapi walhasil kisah diatas menjadi sebuah kisah yg menarik untuk dicermati betapa bingungnya kaum wahabi dalam menjelaskan bid'ah itu sendiri yang mereka klaim semua bid'ah sesat...

      Delete
    2. antum tau darimana Ust Yazid tidak dapat menjawabnya ? udah nonton belum VCD nya ?
      tonton dulu VCD nya sebelum memberikan pernyataan atau antum menuduh seseorang tanpa bukti

      Delete
    3. Biasa mas abi yazid.. ni orang bisanya cuma nuduh doank.. saya sudah pernah denger penejelasan ustd yazid masalah ini.. dan saya bandingkan dengan kitab2 jumhur ulama.. sama persis yang dibawakan ust yazid..

      Delete
    4. Assalauallaikum, atum tidak usah cape" berdebat,terutama yang posting di blog ini afuan akhi, kalau secara logika begini saja, ajaran islam yang di sebarkan di jaman Rassulallah dulu secara damai tenang bahkan mungkin lebih rumit di banding skrng ini. dulu pemeluk agama islam mungkin cuma segelintir buah kurma perumpamaan nya itu. Tapi Rassulallah SAW, dan para Sahabat-Sahabat nya sabar dan tenang. Bukan ane membela ustd yazid jawas, kesimpulan nya mungkin ustd yazig tidak ini meladeni anda karena pertanyan anda saja sudah mengandung debat yang bakal merusak akidah mungkin saja bisa mengundang hal-hal yang tidak di ingin kan sesama muslim. Begini saja dalam kalimat anda di atas "saya katakan kepadanya, “Bagaimana kalau Anda kami ajak dialog dan debat secara terbuka dengan ulama kami. Apakah Anda siap?” “Saya tidak siap.” Demikian jawab Yazid Jawas seperti diceritakan oleh Ali Rahmat kepada saya." Anda seolah-olah mengagumi bahkan mungkin berpegang teguh. Kalau anda yang di ajak debat secara 1-1 apa anda berani? kenapa mesti bawa-bawa tameng? tolong akhi jangan telalu membicarakan apa lagi memposting keburukan orang lain karena itu termasuk "GHIBAH" Rasulullah SAW bersabda : “Ghibah itu lebih keras daripada zina.”! Allah Ta’ala berfirman,
      “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain.” (Surah al-Hujuraat:12. silahkan anda cermati kata nya anda, seorang yang mengarti agama.. Sukron wassalamuallaikum ...


      Delete
    5. sudah brp kali ustadz Idrus Ramli kirim surat ke radioa rodja untuk berdialog terbuka, dan tidak ada tanggapan, pdhal di situs Firanda ktny dia siap tp di kirim surat lg, dia blng asal ustadz ny bkn idrus ramli, apa itu?

      Delete
  2. Kapan ya? Selama tahun 2009 ana tidak absen mendatangi tabligh beliau dan tidak pernha melihat spt yg diceritakan...
    .
    Kalau ini benar tentu kami yg hadir di setiap tabligh beliau akan lihat kok ini gak ada ya
    .
    Kalau begitu gampang kok datang saja ke radio rodja atau masjid Imam Ahmad bin Hambal di Bogor... ana mau lihat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. silahkan anda baca Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi karya Ustadz Muhammad Idrus Ramli supaya wawasan anda terbuka mengenai tingkah dan kalam ustadz2 wahabi, atau tanyakan langsung kepada ustadz kalian itu dan pintalah jawaban jujurnya.
      jangan lupa untuk siapkan hati anda dalam menerima kejujuran walau pahit, ditakutkan anda akan galau nantinya.

      terima kasih...

      Delete
    2. "Mendengar pertanyaan saya, Yazid Jawas hanya terdiam seribu bahasa, tidak bisa memberikan jawaban"

      antum telah dibohongi oleh penulis buku tersebut, apakah antum sudah menonton rekaman VCD tersebut ? apakah benar Ust Yazid tidak menjawab pertanyaan tersebut ?

      ini link salahsatu materi ceramah di Islamic Centre Jakarta Utara

      http://www.youtube.com/watch?v=JuBSL1g4U6k

      kalo mau jelasnya coba antum beli VCD nya, seri ke-1 dan seri ke-2, pematerinya adalah Ust Yazid Abdulqadir Jawas dan Ust Abdul Hakim bin Amir Abdat.

      JIKA MEMANG BENAR sekali lagi saya katakan JIKA MEMANG BENAR
      Mengenai Ust Yazid tidak mau memenuhi undangan dialog, maka hal tersebut dapat dimaklumi karena tipikal ASWAJA jika datang ke tempat mereka, maka biasanya akan di intimidasi.

      Kalo mau Datanglah ke pengajian Ust Abdul Hakim di Krukut belakang POSKOKTA setiap sabtu pagi jam 8:30 pagi
      atau ke Ust Yazid di Bogor di Masjid Imam Ahmad bin Hanbal setiap Ahad Pagi

      INGAT.., Datang jangan bawa pasukan, sebagaimana pendahulu-pendahulu kalian. saya tidak mau beritahu siapa orangnya.
      Datanglah/Dialoglah dengan niat Mencari Kebenaran bukan mencari Pembenaran.


      Delete
    3. Sekali lagi kaum wahhabi mencoba untuk membela ustadznya, tapi sayang anda tidak memahami kisah diatas dengan jelas dan justru malah makin membuat malu kaum wahhabi yang lain.

      Saya atau anda yang tertipu atau bahkan menipu. mari kita buktikan

      1. anda mengarahkan kejadian kisah itu pada link yg di youtube itu, apakah benar ?
      Jawabnya adalah anda sudah membohongi publik. saya cek video itu di upload tanggal 19 Okt 2008, sedangkan kisah diatas terjadi pada pertengahan 2009.

      2. link youtube yg anda beri itu pertemuan antara MUI dengan Abdul Hakim bin Amir Abdat, siapa yg tertipu dan menipu??
      Jawabnya adalah anda telah tertipu dan menipu, kisah di atas bukan pada kejadian tersebut tapi ketika pengajian di Islamic Center Jakarta Utara dengan pembicara Yazid Jawas dan Abdul Hakim Abdat.

      Sampai point disini anda telah menipu dan menipu.

      selanjutnya, anda mencoba berdusta kembali dengan mengatakan aswaja mengadakan intimidasi, apakah benar ?
      Jawabnya adalah dusta kembali, yang lain tentu faham siapa yg berdusta pada point ini.

      Simple kisah diatas saja, apakah aswaja mengintimidasi ?, apakah membawa pasukan banyak?
      Jawabnya adalah tidak sama sekali, ustadz Ali Rahmat hanya datang dengan 3 alumni ponpes Sidogiri lainnya, lagi lagi anda dusta pada point trakhir tulisan anda sendiri.

      Setelah selesai menjawab tulisan anda itu, Sampai ditulisan anda yg paling akhir, saya hanya mampu tersenyum saja, bahwa sebenarnya anda sendirilah sang pencari pembenaran itu.

      terima kasih

      Delete
    4. Saya tidak menipu baca pernyataan saya dengan seksama
      "ini link salahsatu materi ceramah di Islamic Centre Jakarta Utara

      http://www.youtube.com/watch?v=JuBSL1g4U6k

      kalo mau jelasnya coba antum beli VCD nya, seri ke-1 dan seri ke-2, pematerinya adalah Ust Yazid Abdulqadir Jawas dan Ust Abdul Hakim bin Amir Abdat."

      saya katakan Coba antum beli VCD nya ada 2 seri kalo mau lebih jelasnya

      ini perkataan saya selanjutnya :
      "INGAT.., Datang jangan bawa pasukan, sebagaimana pendahulu-pendahulu kalian. saya tidak mau beritahu siapa orangnya.
      Datanglah/Dialoglah dengan niat Mencari Kebenaran bukan mencari Pembenaran."

      Jadi berdasrkan pengalaman sebelumnya dan tipikal dari kalian, jadi kalo mau datangilah majelis Ust Abdul Hakim atau Ust Yazid, waktu dan tempatnya telah saya berikan.

      Delete
  3. Oya.. apa tarawih itu bid'ah ya? berjama'ah sholat tarawih itu bid'ah, ya?..
    Kalaupun ente mengatakan itu bid'ah maka jelas keliru karena Nabi menyuruh mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafaur Rasyidin.. mk apa yg dilakukan Umar radyallohu anhu adalah sunnah..
    .
    Nah coba ente buat Tarawih jadi 60 roka'at dan di satu masjid di sisi kiri ada yang mengimami dan di sisi kanan ada yang mengimami serta di belakan juga ada yang membuat jama'ah sholat tarawih .. lalu kemudian ente bilang : Ni'matul Bid'ah hadza...
    .
    Atau ente buat Haul kematian Nabi sebagai pengganti maulidan lalu ente buat tata acara pertama membaca al Baqoroh 100 kali, kemudian al fatihah 100 kali dan yasinan 100 x ... kan baik tuh dan gak ada larangannya... ekmudian ente teriak ke orang-orang : Ni'matul Bid'ah hadza...
    .
    Bagaimana kapan ente mau ngelakuinnya? ana tunggu ya kabarnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa kapasitas anda mengatakan bahwa shalat tarawih berjama'ah itu bukan bid'ah, padahal jelas jelas Sayyidina Umar RA sendiri berkata "'ni'matul bid'ah hadzihi" ini adalah bid'ah yg ni'mat ?

      Bahkan seorang Syaikh Ibnu taimiyyah saja mengatakan itu adalah bid'ah yang hasanah yang mesti dilakukan dan secara tidak langsung menampar kaum kalian yang anti bid'ah
      Perhatikan kalam imam kalian ini :

      “Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan atsar sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Ini disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah, berdasarkan perkataan Umar, “Inilah sebaik-baik bid’ah”. Pernyataan al-Syafi’i ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang shahih.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, juz 20, hal. 163).

      Justru anda lah yang keliru dan sangat membingungkan, disatu sisi anda mengatakan SEMUA bid'ah sesat, tapi disatu sisi anda terbentur oleh Bid'ah yang dibuat oleh Khulafa'ur Rasyidin yang mana Rasul menyuruh untuk mengikuti jejak khulafaur rasyidin yang notabene melakukan bid'ah.

      walhasil, jika anda masih mengatakan SEMUA bid'ah itu sesat maka secara tidak langsung anda juga mengatakan bahwa Sayyidina Umar RA adalah sesat, beranikah anda mengatakan Sayyidina Umar RA itu sesat karena melakukan bid'ah ?

      maaf kalimat anda yg trakhir itu hanya omong kosong dan ngelantur, jadi saya tidak tanggapi.

      Delete
    2. saya tanya sama antum apa dasar istidlal dan instimbat Imam Asy-Syafi'i membagi bid'ah menjadi dua, bid'ah mahmudah dan bid'ah sayiah ?

      Tolong jelaskan ditunggu

      Delete
    3. Yang dangkal adalah mereka yg membawakan hadits Umar secara umum.. apakah dg hadits tsb difahami oleh para sahabat untuk membuat Maulid Nabi? Tahlilan kematian?.. kok yg dihasanahkan beliau hanya sholat tarawih yg sholat itu sendiri telah ada dan dilakukan oleh para sahabat... Jikapun dipaksakan mk bukankah Nabi menyuruh kita mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafaur rasyidin? Maka apa yg diperbuat oleh Umar adalah sunnah.. bukan bid'ah... Mungkin yg baru nyetir dangkal memahami hal ini karena tidak memiliki akal yg sharih dan shohih

      Delete
    4. “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”

      (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

      Afuan antum coba cermatiya, sukronnn

      Delete
  4. السلام عليكم
    salam ukhuwah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaykumus salam...
      Salam ukhuwah kembali..
      terima kasih.

      Delete
  5. السلام عليكم... سلام اسوج

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaykum salam.. salam aswaja...

      Delete
    2. Mau dicap aswaja, ahlussunnah waljamaah, tapi kerjannya tidak mengikuti sunnah, jadi atum pinjam label doang. Manhaj Salaf yg asli assunnah, antum cap bukan ahlusunnah.

      Delete
    3. bgini doang tdk ada apa2ny, d banding idola ente, si jawas dan firanda yg mengkafirkan sesama muslim, menuduh orng syirik dan sesat, mencap yg tdk sepaham dgn ajaran ny masuk neraka, lbih kejam mana?

      Delete
  6. Waduh mas2 kirain apa, harusnya nyerita'nya dikampung2 aja mas biar yg dengerin nganguk2. wah wah memang penderita TBC. Apalagi yg bawa cerita orang2 tapal kuda. wadduh tadz2 deh bedeh bei

    ReplyDelete
  7. rapatkan barisaan nahdliyin,,,,.,, udeh saatnya nih,.. makin songong aja nih manhaj sarafiii,.

    ReplyDelete
    Replies
    1. inilah salah satu fitnah Dajjal, agar kamu muslimin saling berperang...!

      Delete
  8. Maen mas ke majelis ust yazid di komplek IPB baranangsiang bogor.

    ReplyDelete
  9. hahhahahaha ustad koplak bicara bid'ah sementara wahabi adalah antek yahudi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Antek yahudi? Anda tau dari mana?

      Delete
    2. taunya dy dari internet aja, hehehee,,

      Delete
  10. Assalamualaikum ya ikhwatul iman....
    Jangan terbawa emosi, disini kita semua berbicara mengenai Dien (agama)...
    jadi jika seseorang ingin mengklarifikasi masalah perbedaan, kembalikan masalah tersebut kepada Al-quran dan Assunnah sesuai pemahaman para sahabat nabi...
    jika saat ini kita mengaku ahlussunnah, maka berdebatlah dengan lapang dada dan yg paling utama ialah dengan ILMU Agama yg benar...
    sudah sejauh mana kita mengkaji Agama kita ini dengan Alqur'an dan Assunnah sesuai Manhaj Salaf....???

    hindari pertikaian, darah seorang Mukmin itu haram untuk dibunuh....
    apabila kita terbawa emosi, berarrti disitulah tingkat pengertian Agama kita (tingkat yg rendah)...

    jazakallahufikum....

    ReplyDelete
  11. Afuan ya akhi. Ane mau tanya Kalau menabuh dendang tau marawis di dalam masjid itu bid'ah atau tidak? apakah di jaman Rasulallah ada semacam itu? apakah para Sahabat-sahabt Rasulallah juga melakukan nya? Apakah Itu diwajibkan? Dan satu pertanyaan lagi akhi, Apakah mencium tangan yang bukan saudara atau satu darah itu hukum nya apa? sukron

    ReplyDelete
  12. Wahabi adalah boneka Yahudi... Kenapa selama ini di Palestina Wahabi tidak pernah menyerang Israel ?????
    ... yang ada malah wahabi bikin kisruh di semua negara Islam.

    ReplyDelete
  13. Berdebat terbuka, tertutup itu untuk apa, toh kebenaran itu hanya milik Alloh dan Rosulnya, kalau merasa AHli Bid'ah menang berdebat siapa yang akan menilai kalau amalan Bid'ah itu benar, lagi buat apa berdebat sama Ahli Bid'ah gak ada gunanya sampai kapanpun Ahli Bid'ah Ya tetap Ahli Bid'ah dan menasehati ahli Bid'ah lebih sulit daripada menasehati Ahli Sesat, karena pedoman Ahli Bid'ah itu dalilnya (aji-ajinya) ngeyel, karena sudah terlanjur beramal terlebih dahulu dengan dalil-dalil yang palsu, tapi setelah dikasih dalil yang shahih NGAJAK DEBAT, NGAJAK BERANTEM, karena dia sudah terlanjur malu akan merobah amalannya, karena dia telah bersandarkan dengan MENUHANKAN HAWA NAPSU. dan Ahli Bid'ah itu baru puas kalau Ka'bah itu dipindah di kencong di Jawa Timur dan idrus ramli CS. jadi komandonya itu baru diam tidak menjelek-jelekkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang dinisbatkan oleh Ahli Bid'ah yaitu Wahabi. Apa lu kagak malu ngaku Ahli Sunnah waljamaah (ASWAJA) tapi amalannya BID'AH. Naudzubillahi mindalik.

    ReplyDelete
  14. Jelek-jelekkan Wahabi kaya tahu aja siapa itu Wahabi, paling banter ya mendengar critanya idrus ramli wahabi itu tanduk setan. saya terawa mendengar dari cerita Aliy Faizal diatas Ust. Yazid ditanya diam gak bisa jawab, lucu,diam bukan berati gak bisa menjawab tapi diamnya Ust. Yazid itu tidak mau melayani orang-orang yang syindik, kalau antum gak tahu itu terlau karena siapapun tahu ust. Yazid sudah menulis buku-buku yang ilmiah , tidak seperti golongan antum nulis buku buku berdebat gak ada gunanya buku itu buang aja di tong sampah, kalau ngarang buku ya buku yang berguna untuk umat, agar beramal yang bener jangan Bid'ah karena Bid'ah itu adalah sesat, jangan syrik itu dosa besar, itu baru dinilai oleh ALLOH Swt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahabi ga perlu di jelek jelekin udah jelek mas..
      simak disini : http://aliyfaizal.blogspot.com/2013/04/dua-dedengkot-wahabi-berantem-saling.html

      Delete
  15. Contoh studi kasus :
    Muslim di Negara Indonesia terbesar bahkan di seluruh dunia, ahli berdebat, bisa ngarang buku berdebat, hebat, tapi sayang muslim di sini sebagian besar umunya budeg soalnya kalau do'a, dzikir, dan lain-lain tidak dengar kalau tidak dimasukkan pengeras suara, padahal Alloh itu maha mendengar, Alloh itu dekat, Alloh itu maha tahu isi hati manusia, di dalam Alqur'an Surat AL 'ARAF ayat 55,ayat 205, dan Surat Tha Haa ayat 7 dan Ancamannya bagi orang yang lalai Surat Al 'Araf 179 sudah jelas KITAB ALQUR'AN Firman ALLOH dibuat kura-kura dalam perahu (pua-pura) tidak Tahu, apalagi cuma Hadist, buat ahli Bid'ah apalagi Khasanah itu mah biasa atu,yang penting HAWA NAPSUNYA KESAMPAIAN itu. Tidak dipikirkan kalau golongan antum mengeraskan suara seperti itu mengganggu orang apa tidak, dan Pemerintah juga sudah mengaturnya tapi itu masa bodoh, mentang-mentang Ahlu Hawanya Banyak , kalau diingatkan katanya syiar agama.....? tapi kena apa syiar agama kok menebar (kebencian) sehingga di Indonesia ini banyak musibah mungkin karena Alloh SWT sedang murka, Allohualam.

    ReplyDelete
  16. percuma debat sama ahli bid'ah...gak ada gunanya..bahkan kita diharamkan duduk2 di majelis mereka...beruntunglah orang-orang yg berpegang teguh pada sunnah sebagaimana menggenggam bara. tidak mudah dan mmg gak enak, menjadi terpencil, tapi kata Nabi SAW, bergembiralah orang-orang yang terasing, dan memegang sunnah Nabi yaitu orang-orang yg menghidupkan sunnah diaat yg lain merusaknya dengan bidah-bid'ah mereka (dan jumlah pelaku bid'ah ini amat sangat banyak sekali krn taqlid kepada pemimpin2 mereka yg jahil...kata Nabi "sesat dan menyesatkan"...

    ReplyDelete
  17. Alloh swt berfirman : “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (Al-Qur-an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur-an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada ke-sesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” [Ali ‘Imran: 7]

    ReplyDelete
  18. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوْهُمْ.

    “Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat, mereka itulah yang dimaksud oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.” [1]

    وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

    “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” [Al-An’aam: 68]

    ReplyDelete
  19. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

    “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur-an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” [An-Nisaa': 140]

    Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata: “Masuk ke dalam ayat ini (menjauhkan) setiap orang yang mengadakan hal-hal baru dalam agama dan setiap orang yang berbuat bid’ah sampai hari Kiamat.[3]

    Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari (wafat th. 310 H) rahimahullah dalam kitab Tafsirnya mengatakan: “Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang larangan untuk ikut di dalam majelis ahli bid’ah dari setiap macam pelaku kebid’ahan dan orang-orang fasik yang mereka berbicara tentang kebathilan.”

    ReplyDelete
  20. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَأَصْحَابٌ، يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ، وَيَفْعَلُوْنَ مَا لاَ يُؤْمَرُوْنَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ اْلإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ.

    “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus sebelumku kepada suatu ummat melainkan ia memiliki Hawaariyyun (pengikut-pengikutnya yang setia) dan juga Sahabat-Sahabatnya dari ummatnya yang senantiasa mengikuti Sunnahnya dan men-taati apa yang menjadi perintahnya. Kemudian sesudah me-reka akan muncul orang-orang yang selalu mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan dan mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka ia adalah seorang Mukmin dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka ia adalah seorang Mukmin dan barang-siapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka ia adalah seorang Mukmin. Dan setelah itu tidak ada lagi iman meski hanya sebesar biji sawi.”

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    سَيَكُوْنُ فِي آخِرِ أُمَّتِيْ أُنَاسٌ يُحَدِّثُوْنَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ، فَإِياَّكُمْ وَإِيَّاهُمْ.

    “Akan datang di akhir umatku orang-orang yang berbicara kepada kalian apa-apa yang belum pernah kalian dengar, begitu pula bapak-bapak kalian belum pernah mendengarnya pula, maka hati-hatilah kalian terhadap mereka.”

    Juga atsar dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, ia berkata:

    سَيَأْتِي أُنَاسٌ يُجَادِلُوْنَكُمْ بِشُبُهَاتِ الْقُرْآنِ فَخُذُوْهُمْ بِالسُّنَنِ، فَإِنَّ أَصْحَابَ السُّنَنِ أَعْلَمُ بِكِتَابِ اللهِ.

    “Akan datang suatu kaum yang mendebat kalian dengan syubhat-syubhat dari Al-Qur-an maka bantahlah mereka dengan Sunnah, karena orang yang berpegang kepada Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih tahu tentang Kitab Allah.”

    Yang dimaksud dengan syubhat dalam atsar tersebut adalah ayat-ayat yang mutasyabihat karena di dalam Al-Qur-an tidak ada syubhat.

    ReplyDelete
  21. Jadi berhati-hatilah saudara2ku..kepada ahli bid'ah, kita merasa kasihan kepada orang-orang awam yang mengerjakan bid’ah dan yang mengikutinya, mendo’akan mereka agar mendapatkan hidayah dan mengharapkan mereka agar dapat mengikuti Sunnah dan petunjuk, serta senantiasa menjelaskan kepada mereka tentang hal demikian itu sampai mereka bertaubat dari kebid’ahannya, menghukumi mereka secara zhahirnya dan menyerahkan hal-hal yang rahasia (selain yang zhahir) kepada Allah, apabila perbuatan bid’ahnya bukan bid’ah yang menyebabkan pelakunya jatuh kepada kekafiran.

    ReplyDelete
  22. pertanyaan ente diatas ga perlu seorang ustad Yazid yang menjawab..
    cukup ana saja.. karena bagi kami orang yang anda tuduh sebagai wahabi adalah pertanyaan yang teramat sangat mudah untuk dijawab

    yakni
    harap bedakan antara yang ijtihad sahabat dengan bidah yang ada pada masa kini..
    mereka para sahabat tatkala berijtihad pun tidak sembarangan karena mereka memiliki landasan syariat.. dan coba lihat dengan bidah yang marak pada masa kini.. yakni seperti tahlilan dsb.. dari mana orang2 yg mengkultuskan tahlilan mendapat ijtihad demikian padahal mereka tidak memiliki landasan yang kuat dalam melakukan bidah2 tersebut?

    ReplyDelete
  23. tahlilan termasuk ibadah yg menyerupai orang kafir..padahal kita kan di larang...yg 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari...dst..itu ada di kitab milik agama hindu yaitu kitab dwiga.. jdi tradisi tahlilan itu adalah ritual agama hindu yg tidak ada tuntunannya dalam syariat Islam....Klo sudah jelas spt iru masihkah kita ngotot mengamalkannya padahal kita sudah jelas-jelas diLARANG?? Dan Imam kalian..yaitu Imam syafi'i mengharamkannya, tapi kenapa para pengikutnya sekarang justru menyuburkannya alias tidak mengikuti Imamnya? Suadara2ku, kembalilah kepada Dinul Islam yg lurus yg tidak mencampur adukkan antara yg haq dan yg bathil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ustad wahabi yang mengatakan tahlilan itu budaya hindu itu sudah ketahuan menipu dan dilaporkan kepolisi mba..

      mba juga ga mau kan di sebut penipu krna taqlid dengan pendapat ustdz wahabi yg ketahuan nipu dengan mengatakan tahlilan itu budaya hindu.. ^_^

      Delete
    2. Ya akhi, antum tidak percaya bahwa 3 harian 7, 40, 100, 1000 ada dalam kitab hindu yg diadopt jd budaya di jawa, lalu ketika Islam masuk, budaya itu melekat dan dibawa menjadi syariah? Coba antum tanyakan ke Orang Hindu, atau beli buku dwiga. Org Hindu bisa berkata, walau kita minoritas, namun banyak org jalanin syariat kita ya (tahlil). Semoga Allah memberikan hidayahnya kepada antum.

      Delete
  24. ya aki adakah jaman rosul dakwah di tv dan memakai laptop? Tolong jawab ya aki?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah ini org perlu belajar dulu apa itu bid'ah, baru ikutan nimbrung.

      Delete
    2. Ojo melu melu nek ora Mudeng....

      Delete
  25. Haah.. Yg terakhir ɪ̣̝̇И̣̣̣̥ɪ̣̝̇ malah kelewatan.. Om idat zaenal.. Antum banyak baca dulu.. Supaya ada isi kalo mau ikutan..

    ReplyDelete
  26. Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”.
    Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bid’ah) mengatakan tidak setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yang baik !
    Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah sesat”, merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak”. Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.

    Bid'ah hasanah.. Berarti bid'ah yang baik..Bila kebaikan itu menurut pandangan kita..Maka semua orang yang berbuat bid'ah pasti memandang baik perbuatannya..
    Ahmadiyah memandang baik bid'ahnya....Kaum Syi'ah memandang baik bid'ahnya...Lia Eden pun sama..
    Bahkan Fir'aun pun memandang dirinya di atas kebaikan.
    Dengarkan Firman Rabbuna:
    قال فرعون ما أريكم إلا ما أري وما أهديكم إلا سبيل الرشاد
    "Berkata Fir'aun, "Aku tidak memandang untukmu kecuali yang aku pandang baik. Dan aku tidak membimbing kalian kecuali kepada jalan yang lurus." (Ghafir: 29).

    Tahukah anda..
    Memandang baik itu sama dengan mensyari'atkan..
    Camkan baik-baik perkataan imam Asy Syafi'I, "Siapa yang menganggap baik maka ia telah membuat syari'at."
    Padahal hak membuat syari'at adalah hak tunggal bagi Allah semata..
    Oleh karena itu..
    Allah mengecam orang-orang yang membuat syari'at..

    أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله
    "Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang membuat syari'at untuk mereka dengan sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah?"

    Abdullah bin Umar berkata, "Semua bid'ah sesat walaupun dipandang baik oleh manusia."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Simak kalam Ibnu taimiyyah berikut juga yg membagi bid;ah menjadi dua

      “Dari sini dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Al-Imam al-Syafi’i RA berkata, “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan atsar sebagian sahabat Rasulullah SAW. Ini disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah, berdasarkan perkataan Umar, “Inilah sebaik-baik bid’ah”. Pernyataan al-Syafi’i ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang shahih.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, juz 20, hal. 163).

      Menanggapi kalam Ibnu Umar RA yg anda bawakan, simak penjelasn ini

      “Ada tiga jawaban terhadap pernyataan Anda. Pertama, dalil bid’ah hasanah adalah ayat al-Qur’an dan hadits shahih, sebagaimana Anda tidak bisa menjawabnya tadi. Kalau sudah ada dalil ayat al-Qur’an dan hadits shahih, mengapa harus mengutip Ibnu Umar???

      Kedua, maksud pernyataan Ibnu Umar tersebut, adalah bid’ah yang bertentangan dengan dalil-dalil syar’i (al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas). Jadi bukan semua bid’ah. Mengapa harus kita artikan demikian? Karena Ibnu Umar sendiri termasuk pengamal bid’ah hasanah. Ada fakta yang tidak bisa Anda tolak, bahwa Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa doa talbiyah yang dibaca oleh Rasulullah SAW ketika menunaikan ibadah haji adalah:

      لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لكَ.

      Tetapi Abdullah bin Umar sendiri menambah doa talbiyah tersebut dengan kalimat:

      لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ.

      Hadits tentang doa talbiyah Nabi SAW dan tambahan Ibnu Umar ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/170), Muslim (1184), Abu Dawud (1812) dan lain-lain. Menurut Ibn Umar, Sayidina Umar juga melakukan tambahan dengan kalimat yang sama sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim (1184). Bahkan dalam riwayat Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, Sayidina Umar menambah bacaan talbiyah dari Nabi SAW dengan kalimat:

      لَبَّيْكَ مَرْغُوْبٌ إِلَيْكَ ذَا النَّعْمَاءِ وَالْفَضْلِ الْحَسَنِ.

      Ketiga, pernyataan Ibnu Umar juga harus dipadukan dengan pernyataan para sahabat Nabi SAW yang lain, misalnya Sayyidina Abdullah bin Mas’ud yang menetapkan bid’ah hasanah berdasarkan perkataan beliau:

      مَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

      “Apa saja yang dianggap baik oleh umat Islam, maka hal itu baik menurut Allah. Dan apa saja yang dianggap buruk oleh umat Islam, maka menurut Allah juga buruk.” (HR Ahmad dalam al-Musnad [3600], dengan sanad hasan.”

      Delete
  27. Adapun secara istilah syari’at –dan definisi inilah yang dimaksudkan dalam nash-nash syari’at- bid’ah adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh Al-Imam Asy-Syathiby dalam kitab Al-I’tishom (1/50):
    طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٌ, تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ وَيُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ اللهَ سُبْحَانَهُ
    “Bid’ah adalah suatu ungkapan untuk semua jalan/cara dalam agama yang diada-adakan, menyerupai syari’at dan dimaksudkan dalam pelaksanaannya untuk berlebih-lebihan dalam menyembah Allah Subhanah”.
    Penjelasan Definisi.
    Setelah Imam Asy-Syathiby rahimahullah menyebutkan definisi di atas, beliau kemudian mengurai dan menjelaskan maksud dari definisi tersebut, yang kesimpulannya sebagai berikut:
    1. Perkataan beliau “jalan/cara dalam agama”. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam:
    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
    “Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘A`isyah)
    Dan urusan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tentunya adalah urusan agama karena pada urusan dunia beliau telah mengembalikannya kepada masing-masing orang, dalam sabdanya:
    أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ
    “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”. (HSR. Bukhory)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasulullah SAW bersabda :

      قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ ».

      “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memulai dalam Islam perbuatan yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai dalam Islam perbuatan yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (HR Muslim).

      anda tau Imam Syafi'i ??
      simak kalam beliau ini

      اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا فَهُوَ بِدْعَةُ الضَّلالَةِ وَمَا أُحْدِثَ فِي الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ. (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩).

      “Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

      anda juga tau Ibnu Taimiyyah ulama pujaan wahabi ??
      Simak kalam nya berikut juga yg membagi bid;ah menjadi dua

      وَمِنْ هُنَا يُعْرَفُ ضَلاَلُ مَنِ ابْتَدَعَ طَرِيْقًا أَوِ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ اْلاِيْمَانَ لاَ يَتِمُّ اِلاَّ بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُوْلَ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَذْكُرْهُ، وَمَا خَالَفَ النُّصُوْصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لاَ يُسَمَّى بِدْعَةً، قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلاَلَةٍ وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُوْنُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلاَمُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِاِسْنَادِهِ الصَّحِيْحِ فِي الْمَدْخَلِ. (الشيخ ابن تيمية، مجموع الفتاوى ۲٠/١٦٣).

      “Dari sini dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Al-Imam al-Syafi’i RA berkata, “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan atsar sebagian sahabat Rasulullah SAW. Ini disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah, berdasarkan perkataan Umar, “Inilah sebaik-baik bid’ah”. Pernyataan al-Syafi’i ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang shahih.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, juz 20, hal. 163).

      Delete
  28. jadi tv, laptop itu bukanlah perkara bid'ah...itu mubah (perbuatan yg diperbolehkan) karena tidak ada kaitannya dengan syariat (ad-dien). Itu adalah urusan dunia. bahkan Alloh telah menash-kan dalam alqur'an bahwa nanti pada akhir jaman akan ada kendaraan antara langit dan bumi.

    Dan untuk urusan dunia tersebut, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah mengembalikannya kepada masing-masing orang, dalam sabdanya:
    أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ
    “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”. (HSR. Bukhory.

    Kalo kita mau belajar, sebenarnya jalan lurus itu sangat mudah diikuti..karena agama Islam itu adalah agaman yg hanif, yg mmudah. Karena Alloh telah mengatur kehidupan hambanya secara sempurna. Maka mumpung masih ada usia, ayo kita banyak mencari ilmu Syar'i, karena Alloh akan memudahkan jalan kita ke syurga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. bilang saja klo laptop, internet, radio, tivi dll itu bid'ah dunia menurut wahabi..
      sekarang mana dalil yg membagi bid'ah menjadi bid'ah dunia dan bid'ah agama versi wahabi ??

      Delete
    2. Ya akhi, sungguh dangkal pemikiran antum. Siapa bilang ada bid'ah duni, yg ada nabi menyebut bahwa urusan dunia kamu lebih mengetahuinya. Bidah itu terkait ibadah, sdangkan tv laptop dll urusan dunia, dan ini bisa menjadi fitnah dunia, krn content yg ada di TV, dan penggunaan laptop itu sendiri.

      Delete
  29. Islam agama yang sempurna, tidak membutuhkan penambahan maupun pengurangan. Orang yang menambah ajaran baru, ritual baru, keyakinan baru dalam Islam, ia terjerumus ke dalam hal yang dinamakan bid’ah. Dan bid’ah ini tercela dan dilarang dalam Islam.Sampai-sampai pelaku bid’ah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan syafaat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam di akhirat kelak.

    Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
    “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)

    Sayangnya kebanyakan orang seringkali enggan atau benci membahas bid’ah, tidak jarang pula yang marah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasulullah SAW bersabda :

      قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ ».

      “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memulai dalam Islam perbuatan yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai dalam Islam perbuatan yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (HR Muslim).

      anda tau Imam Syafi'i ??
      simak kalam beliau ini

      اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا فَهُوَ بِدْعَةُ الضَّلالَةِ وَمَا أُحْدِثَ فِي الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ. (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩).

      “Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

      anda juga tau Ibnu Taimiyyah ulama pujaan wahabi ??
      Simak kalam nya berikut juga yg membagi bid;ah menjadi dua

      وَمِنْ هُنَا يُعْرَفُ ضَلاَلُ مَنِ ابْتَدَعَ طَرِيْقًا أَوِ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ اْلاِيْمَانَ لاَ يَتِمُّ اِلاَّ بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُوْلَ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَذْكُرْهُ، وَمَا خَالَفَ النُّصُوْصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لاَ يُسَمَّى بِدْعَةً، قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلاَلَةٍ وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُوْنُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلاَمُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِاِسْنَادِهِ الصَّحِيْحِ فِي الْمَدْخَلِ. (الشيخ ابن تيمية، مجموع الفتاوى ۲٠/١٦٣).

      “Dari sini dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Al-Imam al-Syafi’i RA berkata, “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan atsar sebagian sahabat Rasulullah SAW. Ini disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah, berdasarkan perkataan Umar, “Inilah sebaik-baik bid’ah”. Pernyataan al-Syafi’i ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang shahih.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, juz 20, hal. 163).

      Delete
  30. Ya Alloh...kami sudah menyampaikan yang dari Rasul-Mu, maka saksikanlah...

    ReplyDelete
  31. bukan kalah yang membuat Yazid Jawas permisi ketika dalam acara atau tidak menerima dialog secara terbuka, tetapi perkataan "Sekarang saya bertanya, Sayidina Umar bin al- Khaththab memulai tradisi shalat tarawih 20 raka’at dengan berjamaah, Sayidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali, sahabat-sahabat yang lain juga banyak yang membuat susunan-susunan dzikir yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sekarang saya bertanya, beranikah Anda mengatakan bahwa Sayidina Umar, Sayidina Utsman dan sahabat lainnya termasuk ahli bid’ah dan akan masuk neraka?"...

    minoritas kalah dengan mayoritas, siapa yang berani mengucap 4 khalifah adalah bibit bid'ah?.
    pertanyaan provokasi berbahaya bagi minoritas, diam adalah emas...
    tiada mendukung siapa-siapa, hanya pengen belajar mengamati, "mengapa Yazid Jawas musti buru-buru pulang?".
    auliya.iskandar.mn@gmail.com

    ReplyDelete
  32. kalau dialog diakhiri dengan kalimat, "beranikah anda mengatakan para khalifah termasuk ahli bid'ah dan akan masuk neraka?", saya rasa Muhammad Idrus Ramli gak perlu turun ke jalan cukup anak man atau mts (sekolah agama sederajat smp dan sma) aja yg berdialog dimodali dengan kalimat sakti berkesan "provokasi".

    hmm 4 khalifah..., pernahkah nama dan kisah mereka diceritakan qur'an? 14 abad adalah waktu yang panjang, long long time...
    supersemar yang diera kini aja bisa kontradiksi, begitu pula turunan raja plus kisahnya gak terdata lengkap, mungkin kurang situs sejarahnya, prasasti dll nya ya, tapi justrul yg 14 abad yg silam lengkap terdata...

    hmm sebenarnya menggunakan metode apa pembuktian sejarah keberadaan 4 khalifah itu?

    tolong pencerahannya mas tentang bagaimana membuktian seluruh sejarah dalam islam seperti khalifah, tabi'in, tabi tabi'in, para perawi hadits, para imam mazhab sehingga diakui secara keilmuwan, singkat padat plus link ya mas bro....

    ReplyDelete
  33. Perdebatan dalam agama yang tidak sesuai dengan aturan syar’i merupakan salah satu di antara penyakit lisan yang sangat berbahaya. Dan merupakan sebab terjadinya perpecahan, pemutusan hubungan, saling menjauhi di antara sesama kaum muslimin. Perdebatan juga bisa menjadi sebab keras dan sesaknya hati karena bisa melahirkan kedengkian kepada kaum muslimin lainnya, ditambah dengan banyaknya waktu yang terbuang akibat melakukan perdebatan ini dan kurangnya manfaat yang lahir darinya.

    Karenanya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menutup semua wasilah menuju kepada perdebatan yang tidak bermanfaat, dengan memberikan janji surga kepada orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia yang benar, dan sebaliknya Allah sangat murka kepada orang- orang yang dengan mudahnya terjun dalam perdebatan tanpa mengindahkan aturan- aturan syariat di dalamnya.

    Dan telah benar Allah dan Rasul-Nya, bahwa setiap orang yang terjun ke dalam perdebatan yang tidak berguna pasti akan berakhir pada kesesatan, kecuali mereka yang masih dirahmati oleh Allah, dan sangat sedikit sekali jumlah mereka ini.
    Tidakkah kita mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu sebelum kita, yang mereka ini lebih berilmu dibandingkan kita, bagaimana akhirnya mereka terjerumus ke dalam kesesatan akibat mereka berdebat dalam masalah agama, walaupun ada segelintir di antara mereka yang masih bisa kembali kepada kebenaran. Sebut saja di antaranya: Jahm bin Shafwan penyebar mazhab Jahmiah, Washil bin Atha’ pencetus mazhab Mu’tazilah, Imam Al- Ghazali, Fakhrur Razi, Asy- Syahrastani, dan selainnya.

    Karenanya para ulama di setiap zaman menegaskan dalam kitab-kitab akidah mereka, bahwa di antara ciri khas Ahlussunnah adalah menjauhi semua bentuk perdebatan. Karenanya siapa saja yang terjun dalam perdebatan dalam agama maka dia telah bermain-main di daerah terlarang, yang bisa mengeluarkan dia dari Ahlussunnah. Hanya saja walaupun demikian, para ulama tetap memberikan persyaratan yang sangat ketat mengenai kapan perdebatan dibolehkan. Hal itu karena ada segelintir ulama (tidak banyak) yang diketahui mengadakan perdebatan dengan pengikut hawa nafsu (seperti Imam Ahmad, Utsman bin Said Ad-Darimi, dan Ibnu Taimiah), bahkan para Nabi pun berdebat dengan kaumnya. Maka ini menunjukkan bahwa hukum asal perdebatan dalam agama adalah haram, kecuali jika terpenuhi syarat- syaratnya, yaitu:

    1. Ikhlas guna meninggikan kalimat Allah, bukan dengan niat untuk menjadi tenar.
    2. Orang yang berdebat harus mapan keilmuannya dalam masalah yang dia perdebatkan. Jika dia orang yang jahil atau ilmunya masih setengah- setengah maka diharamkan atasnya
    3. Dia yakin -atau dugaan besar- dia bisa menang. Jika dia tidak yakin bisa menang maka dia wajib meninggalkan perdebatan itu.
    4. Ada kemungkinan pihak lawan jika dia kalah maka dia akan kembali kepada kebenaran. Jika pihak lawan diketahui sebagai orang yang keras kepala dan tidak akan bertaubat walaupun kalah maka tidak boleh berdebat dengannya.
    5. Jika dia tidak berdebat maka kebenaran akan tertutupi dan kebatilan yang akan menyebar.
    6. Ada maslahat (kebaikan) darinya, baik yang kembalinya kepada pihak lawan dengan dia bertaubat maupun yang kembalinya kepada masyarakat dengan mereka menjauhi pihak lawan tersebut.
    Adapun jika tidak ada manfaatnya sama sekali, walaupun mereka kalah tapi masyarakat tetap tidak goyah dalam mengikuti mereka maka ini perdebatan itu adalah perbuatan sia-sia.

    Mungkin itulah mengapa seorang Yazid jawas tidak mau meladeni ajakan debat terbuka dari orang-orang yg dia tahu bagaimana mereka itu. wallohualam bi showab

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah saya faham, dalil itu memang menjadi andalan kaum wahabi ketika terpojok dan tidak bisa mempertanggung jawabkan kalamnya sendiri ....

      jangan lupakan firman Allah ini yah.....

      ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
      “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Nahl [16]: 125)

      walhasil, untuk mencari kebenaran, bersandarkan kepada Al Qur'an wal hadits, dan menggunakan cara yg ahsan itu boleh boleh saja..

      wahabi berani mengatakan ini bid'ah dan itu bid'ah, harus berani mempertanggung jawabkan dong, jangan diam dan kabur ketika di ajak berdiskusi jika memang merasa benar, harusnya berani dan punya dalilnya dong.. ^__^

      Delete
  34. Dibawah ini adalah Hadist-hadist yang menerangkan tentang Hukum Berdebat Dalam islam
    1. Nabi Muhammad S.A.W bersabda;
    “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”
    (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)
    2. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:
    “Tinggalkanlah mira’ (jidal,berdebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.”
    (Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897)
    3. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa
    “Cukuplah engkau sebagai orang zhalim bila engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain dzikir kepada Allah.”
    (al-Fakihi dalam Akhbar Makkah)
    4. Abud Darda radhiyallahu ‘anhu
    “Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam dzikir tentang Allah.”
    (Darimi: 299)
    5. Muslim Ibn Yasar rahimahullah
    “Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya setan menginginkan ketergelincirannya.”
    (Ibnu Baththah, al- Ibanah al-Kubra; Darimi: 404)
    7. Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah
    “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindah-pindah(agama).”
    (Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565)

    Semoga kita menjadi muslim yg kaffah yang mengikuti seluruh sunnah Rasulullah saw, termasuk sunnah2 beliau Nabi SAW tentang berdebat, bukan membeli buku2 yg mengajari kita untuk senang berdebat dan pintar berdebat..padahal kewajiban kita adalah berdakwah atau menyampaikan kebenaran.. amin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah saya faham, dalil itu memang menjadi andalan kaum wahabi ketika terpojok dan tidak bisa mempertanggung jawabkan kalamnya sendiri ....

      jangan lupakan firman Allah ini yah.....

      ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
      “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Nahl [16]: 125)

      walhasil, untuk mencari kebenaran, bersandarkan kepada Al Qur'an wal hadits, dan menggunakan cara yg ahsan itu boleh boleh saja..

      wahabi berani mengatakan ini bid'ah dan itu bid'ah, harus berani mempertanggung jawabkan dong, jangan diam dan kabur ketika di ajak berdiskusi jika memang merasa benar, harusnya berani dan punya dalilnya dong.. ^__^

      Delete
  35. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. Menurut ane sih...kita Gaªª usah saling menjelekan satu dan yang lainnya.kita semua saudara seislam.. Mendingan kita bersatu.memerangi pemurtadan.yang ada di negeri tercinta ini.yang suka tahlil terusin yang Gaªª suka mending diam Ά̲jª.. Semuanya demi islam yang satu. آمِّينَ... آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَ رَ بَّلْ عَلَمين

    ReplyDelete
  36. Saya sudah baca buku pintar berdebat dengan wahabi

    Isinya hanya dongeng dan dusta

    tidak jelas semuanya hanya khayalan penulis tidak ilmiah

    Kasihan deh buku ngga mutu kok disebarkan

    Sama seperti dongeng di artikel ini mengenai tabligh Akbar Ust Yazid di Islamic Center Jakut

    Kasihan deh penulisnya Dusta kok disebar-sebarkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe,,, wahabi makin aneh aja, ga bisa membedakan antara kenyataan dan dongeng...
      dibuku itu kisah nyata dan ada sumbernya...

      Bangun bro.... ^_^

      Delete
  37. "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali pada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat" (QS. 49:9-10).

    Itulah isi Al Kitab Al Qur'an, dan jangan mendebat Al Kitab Al Qur'an "Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. 40:56).

    Yang lain gak ada jaminan akan kebenaran isinya (QS. 39:28) plus penjagaan eksistensi keberadaannya dari perubahan hingga akhir zaman (QS. 15:9) kecuali Al Kitab Al Qur'an, sesama muslim jangan coba-coba memperdebatkan yang satu itu, yang selain itu why not?

    by: auliya.iskandar.mn@gmail.com

    ReplyDelete
  38. apa kurang jelas sabda nabi : Kullu Bida'atin dolalah, Wa Kulla dolalatin finnar
    ( Setiap bid'ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka "???
    Akh Faizal, antum lebih percaya kata kata ustadz antum yang lulusan pesantren Jawa timur ? apa kata kata Nabi Salallahualaihiwasallam ???

    Oke katakanlah antum bilang tidak semua bid'ah itu sesat maka antum sudah mengatakan seperti ini kepada sabda nabi :

    Kullu Bida'atin dolalah, Wa Kulla dolalatin finnar
    ( Tidak semua bid'ah itu sesat, dan Tidak semua yang sesat itu di neraka ".

    Ana sudah sering nnotn debat ustadz yang antum bangga banggakan, dan jawaaban mereka semua tidak logis dan kebanyakan aneh, dan lebih parah ada yang mengaku bermimpi bertemu Rasul, ana bukan wahabi, ana bukan salaf, ana juga aswaja... tapi ana melapangkan dada dengan kebenaran.
    Syukron...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau menafsirkan ayat dn hadits itu jangan pakai hawa nafsu dan kebodohan bro.
      ente tahu Imam Syafi'i ??
      mari simak kalam dari Imam Syafi'i mengenai bid'ah,,

      Al-Imam asy-Syafi’i berkata :

      اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا فَهُوَ بِدْعَةُ الضَّلالَةِ وَمَا أُحْدِثَ فِي الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ. (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩).

      “Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

      masih blum sadar ente udah salah ??

      simak lagi kalam Ibnu Taimiyyah ulama pujaan ente yg juga membagi bid'ah..

      وَمِنْ هُنَا يُعْرَفُ ضَلاَلُ مَنِ ابْتَدَعَ طَرِيْقًا أَوِ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ اْلاِيْمَانَ لاَ يَتِمُّ اِلاَّ بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُوْلَ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَذْكُرْهُ، وَمَا خَالَفَ النُّصُوْصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لاَ يُسَمَّى بِدْعَةً، قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلاَلَةٍ وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُوْنُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلاَمُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِاِسْنَادِهِ الصَّحِيْحِ فِي الْمَدْخَلِ. (الشيخ ابن تيمية، مجموع الفتاوى ۲٠/١٦٣).

      “Dari sini dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Al-Imam al-Syafi’i RA berkata, “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan atsar sebagian sahabat Rasulullah SAW. Ini disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah, berdasarkan perkataan Umar, “Inilah sebaik-baik bid’ah”. Pernyataan al-Syafi’i ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang shahih.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, juz 20, hal. 163).

      masih blum sadar juga ??
      ahsan ente belajar lagi di TPA/TPQ ya, ga usah malu ama umur, yg penting kita ngerti mana yg bener dan mana yg salah...

      Delete
  39. Ustad Faizal, Kuliah dulu di madinah,,, baru bikin tulisan di blog antum, biar gak banyak omong banyak salahnya,..
    Bahaya,

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk mengetahui kesesatan wahabi ga perlu kuliah di madinah segala, anak madrasah tsanawiyyah aja udh faham klo wahabi sesat..

      wahabi ngomong ini dan itu giliran sekalinya di beri dalil dan dipinta pertanggungjawaban atas kalamnya sendiri malah diam dn kabur... ^__^

      Delete
    2. Alangkah sombongnya org yang merasa sudah cukup dan pintar dgn apa yang diajarkan taqliq dgn kiyainya saja. Suatu saat nanti pasti Allah akan membuka pintu hati nurani antum, dan menerima hidayah Nya. Semoga Allah mengabulkannya. Amiin.

      Delete
    3. iyya sob smg kaum wahabrot pd sadar dan diberri hidayah Allah. Aamien ^^

      Delete
    4. Aliy Faizal apakah kamu suka mengerjakan bid'ah ?

      Delete
  40. wahabi diajak dialog kabur,, diam bukanya ga bisa jwab? Terus knp? Diam dikatakan emas itu lihat posisinya mas. Lah ini dialog terbuka demi kepentingan umat, umat yg tersakiti krn mulut2 wahabi tu. Jd berani ngomong berani bertanggung jawab. Terus klo didialog kalah debat atau kalah dalil. Otomatis diam ga bsa jawab/bingung ya tau sopan santun dong jangan diam terus kabur tanpa alasan. Ni saya ajarkn etika kalau2 antum kalah dalil swaktu debat: mf bapak2, ustadz2 dikarenkan saya kehabisan dalil dan terlanjur bingung keblinger, saya permisi saja dulu nanti saya belajar lagi dan nanya sama guru ana buat jawab dalil2 antum, terimaksih,'' Nah begitu mestinya klo antum bener2 ustadz yg berani bertanggungjwb,, jujur aja napa, jgn asal kabur ga jls gtu? INGAT INI BUAT KEPENTINGAN UMAT, BUKAN BUAT DIRI PRIBADI ^_^

    ReplyDelete
  41. muhammad abdul wahab tidak akan bisa bac Al-quran, jika Al quran yg d trunkn kpd Rusulullah tdk di susun dan ditulis dg had taklif akal kemanusian. Krn Al quran it kalam ilahi tdk ada stu pun munusia yg snggup menjamin kebenaran hasil ijtihadnya, kcuali d serahkn kpd Allah. Ttapi setidaknya, jika mmg ingin mentafsirkan "SURAH" Al quran/ "LAFAZ" Hadist mestinya memperhatikan disiplin ilmu Lughah, mantiq,asbabu nuzul, asbabul wurud, nasakh dan mansukh.

    ReplyDelete
  42. tolong untuk semuanya....buktikan dengan akhlaq kalian...jangan terlalu banyak ngomong....islam itu rahmatan lil alamin...masih banyak saudara kita yang muslim yang masih dibawah garis kemiskinan materi....dibantu itu....jadi rasulallah itu dakwahnya dengan akhlaqnya y....banyak org yg ampe s3 ilmunya islam aja tergelincir....jadi saat kita dapat ilmu bukan sibuk debat tapi sibuk menyelesaiakn masalah yang nyata....dan berdampak sangat pada umat mayoritas.....bosen kokean debat....hasilnya negara ini noolllll besar.....jangan memajukan organisasi atau kelompok atau pondoknya doank.....negara bos..... :) ,ciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya....biar kita bisa kaya dan bersedekah.....sahabat dan rasalullah saja kaya....bisa selalu memeberikan makan anak yatim setiap hari...setiap hari....jadi lihat diri kita....ngapain pake baju keren...sorban dll...tapi masih banyak orang miskin....cuma itu aja yang pengin saya sampaikan...kalau pengen menjalin silaturahmi k blog saya saja...www.cateringsuryaboga.blogspot.com :)

    ReplyDelete
  43. Alahamdulillah dengan Ustad2 salafy saya bisa mengenal Islam Secara benar dan mampu merasa Indahnya Islam,,, mudah2an radio dan TV rodja mampu merubah Indonesia yg lebih baik dengan da'wah penuh baroqah mereka

    ReplyDelete
  44. Alhamdulillah...punya guru yang membimbing amaliyah dhohir dan bathin Insya Allah tdk bingung untuk menjalani hidup, terima kasih syekhuna

    ReplyDelete

 
Top