Friday, June 28, 2013

Penjelasan Ustadz Idrus Ramli Atas Keshahihan Atsar Ibnu Umar RA Mengenai Istighatsah

fakta wahabi
Ini adalah penjelasan dari Ustadz Muhammad Idrus Ramli yang dimuat dilaman Fanspage Facebook Ustadz Muhammad Idrus Ramli terhadap pemahaman para kaum wahhabi yang mendho'ifkan atsar Ibnu Umar RA mengenai Istighatsah.

Berikut ini mari kita simak catatan lengkap Ustadz Idrus Ramli dalam menjelaskan tentang Keshahihan Atsar Ibnu Umar RA Mengenai Istighatsah, sekaligus menjawab kebodohan kaum wahhabi mengenai istighatsah seperti Abul Jauzaa' Al Wahhabi dkk.

KESHAHIHAN ATSAR IBNU ‘UMAR radhiyallaahu ‘anhuma, DAN PENJELASAN KEPADA PELAJAR WAHABI YANG BARU BELAJAR ILMU HADITS

BEBERAPA WAKTU YANG LALU KAMI MENULIS PENJELASAN TENTANG KESHAHIHAN ATSAR IBNU ‘UMAR radhiyallaahu ‘anhuma, YANG MENGATAKAN “YAA MUHAMMAD”, KETIKA KAKINYA MATI RASA, SEBAGAI BENTUK ISTIGHATSAH BELIAU KEPADA RASULULLAH shallallaahu ‘alaihi wasallam YANG SUDAH WAFAT. PENJELASAN TERSEBUT SEBENARNYA SANGAT GAMBLANG DAN LENGKAP DENGAN KUTIPAN DARI ILMU MUSHTHALAH AL-HADITS, RIJAL AL-HADITS DAN LAIN-LAIN. AKAN TETAPI SEBAGIAN ORANG (ENTAH HARUS SAYA SEBUT APA? MAU SAYA SEBUT SAUDARA SEAGAMA, IA MENGANGGAP SAYA SEBAGAI ORANG MUSYRIK DAN PENYEMBAH KUBURAN), TETAP NGEYEL DAN MENOLAK KESHAHIHAN ATSAR TERSEBUT DAN TIDAK MAU MENGERTI PENJELASAN SAYA, MUNGKIN KARENA TIDAK DIJELASKAN SECARA GAMBLANG SEPERTI PENJELASAN SEORANG GURU DI RUANG KELAS TINGKAT ALIYAH ATAU TSANAWIYAH. BERIKUT DIALOGNYA.

SUNNI: “Di antara dalil istighatsah adalah atsar Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma yang mengatakan “Yaa Muhammad”, ketika kakinya mati rasa, sebagai bentuk istighatsah beliau kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sudah wafat. Atsar tersebut shahih, dengan beberapa pendekatan, antara lain, penguatan riwayat Sufyan al-Tsauri yang ‘an’anah oleh riwayat Syu’bah yang menyelamatkan ‘an’anah nya Abu Ishaq al-Sabi’i dari kelemahan.”

WAHABI: “’An’anah nya Abu Ishaq al-Sabi’i tidak bisa diselamatkan dari kelemahan, karena kemungkinan ia membuang perawi yang lemah. Sedangkan riwayat Syu’bah juga lemah, karena faktor perawi mubham, yang kemungkinan juga seorang perawi lemah. Oleh karena itu riwayat tersebut tetap harus dilemahkan, apalagi riwayat tersebut mendukung ajaran istighatsah, yang telah dilarang oleh Syaikh Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, pendiri aliran Wahabi.”

SUNNI: “Anda terlalu menggebu dalam melemahkan atsar tersebut karena tidak mau berfikir sejenak tentang penjelasan kami sebelumnya dan keluar dari kaedah ilmu hadits. Dalam riwayat Abu Ishaq al-Sabi’i melalui jalur Sufyan al-Tsauri yang ‘an’anah, Anda memastikan bahwa Abu Ishaq al-Sabi’i membuang perawi (dan dimungkinkan lemah) antara beliau dengan gurunya Abdurrahman bin Sa’ad. Di sinilah letak kesalahan Anda yang memastikan bahwa ‘an’anah nya Abu Ishaq telah membuang perawi. Padahal dalam ilmu hadits tidak lah demikian. Ketika seorang perawi mudallis, seperti Abu Ishaq al-Sabi’i meriwayatkan secara ‘an’anah, maka kemungkinan nya dua. Mungkin ia menggugurkan seorang perawi, dan mungkin juga tidak menggugurkan seorang perawi. Ketika ada dua kemungkinan memiliki tingkatan yang sama, maka tinggal dicarikan penguat atau qarenah, kemungkinan mana yang lebih kuat, apakah membuang perawi, yang berarti konsekuensi riwayatnya dianggap lemah, atau kemungkinan tidak membuang perawi, dan berarti riwayatnya dinilai tidak lemah, dalam arti ‘an’anah nya perawi mudallis tersebut tidak berpengaruh. Nah, riwayat Syu’bah melalui jalur perawi yang mubham tersebut cukup dalam menguatkan kemungkinan bahwa Abu Ishaq al-Sabi’i meriwayatkan atsar tersebut, tidak membuang perawi antara dirinya dengan Abdurrahman bin Sa’ad, dalam jalur Sufyan al-Tsauri.

Mungkin Anda akan berkata, bahwa dalam jalur Syu’bah, telah melalui perawi yang mubham/tidak jelas identitasnya dan dimungkinkan seorang perawi yang lemah, karenanya atsar tersebut harus dilemahkan lagi. Nah di sini, Anda terjebak lagi dalam obsesi melemahkan riwayat atsar tersebut tanpa mengikuti ilmu mushthalah al-hadits mana pun. Anda harus tahu, bahwa perawi mubham dalam jalur Syu’bah, tetap berkemungkinan dua, mungkin ia seorang perawi yang lemah, dan mungkin bukan perawi yang lemah. Ketika dua kemungkinan sama-sama satu tingkat, maka tinggal dicarikan penguatnya, kemungkinan mana dari keduanya yang lebih kuat. Nah, ternyata dalam riwayat lain, yaitu riwayat Sufyan al-Tsauri misalnya, perawi tersebut dijelaskan sebagai perawi yang tidak lemah, dan justru perawi tsiqah, yaitu Abdurrahman bin Sa’ad. Hal ini cukup untuk menjelaskan siapa sebenarnya perawi mubham dalam riwayat Syu’bah. Bukankah dalam ilmu mushthalah al-hadits demikian??? Dan seandainya, perawi dalam jalur Sufyan al-Tsauri tersebut seorang perawi yang lemah, maka perawi mubham dalam jalur Syu’bah akan meningkatkan status atsar tersebut menjadi atsar yang hasan lighairihi. Bukankah demikian dalam ilmu mushthalah al-hadits??? Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah berkata dalam Fath al-Bari:

إسناده حسن الا أن فيه مبهما اعتضد بمجيئه من وجه آخر
“Sanad hadits tersebut hasan, hanya saja di dalamnya terdapat perawi mubham, yang menjadi kuat sebab diriwayatkan melalui jalur lain.” (al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 1 hal. 284, tahqiq Ustadz Wahabi Abdurrahman bin Nashir al-Barrak).
Dalam pernyataan di atas jelas sekali, bahwa perawi mubham, haditsnya dapat dinilai hasan, apabila diriwayatkan melalui jalur lain, tentu saja meskipun jalur lain tersebut lemah. Bukankah begitu wahai para pengkaji ilmu hadits??? Apakah harus saya kutip pernyataan para ulama dalam ilmu mushthalah al-hadits??? Silahkan Anda baca catatan sebelumnya yang mengutip dari al-Imam al-Nawawi, al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, dan Syaikh Wahabi Nashir al-Albani dari kitabnya Tamam al-Minnah.

WAHABI: “Tolong Anda jawab sanggahan kami terhadap catatan Anda yang mengutip madzhab Ya’qub bin Sufyan al-Fasawi, dalam men-shahih kan atsar tersebut yang terdapat ‘an’anah nya Abu Ishaq al-Sabi’i.”

SUNNI: “Dalam catatan tersebut memang saya tulis terlalu singkat, sehingga Anda tergesa-gesa untuk melemahkannya. Begini, atsar Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma tersebut dapat di-shahih kan tanpa penguatan antara jalur Syu’bah dengan jalur Sufyan al-Tsauri. Mengapa demikian? Al-Imam al-Bukhari dan Muslim, ternyata juga men-shahih kan riwayat Abu Ishaq al-Sabi’i yang ‘an’anah dalam kedua kitab nya Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Padahal riwayat tersebut, tidak memiliki penguat dari jalur lain. Al-Imam al-Hafizh al-Mizzi, mengatakan bahwa penilaian shahih al-Bukhari dan Muslim terhadap riwayat tersebut, semata-mata berbaik sangka/tahsin al-zhann terhadap keduanya. Artinya bagaimana, berangkat dari manhaj al-Bukhari dan Muslim tersebut, riwayat Sufyan al-Tsauri yang ‘an’anah, dapat dinilai shahih dengan sendirinya, tanpa penguatan dari jalur Syu’bah. Nah ternyata, penilaian shahih atsar tersebut juga diikuti oleh madzhab nya al-Imam al-Hafizh Ya’qub bin Sufyan al-Fasawi, dan seorang Ustadz Wahabi kontemporer dalam kitabnya Manhaj al-Mutaqaddimin fi al-Tadlis.

Kalau sekarang Anda berkata, kami menolak keshahihan atsar tersebut, meskipun Anda menggunakan pendekatan ilmu mushthalah al-hadits dalam penjelasan pertama di atas atau pendekatan madzhab al-Bukhari, Muslim, al-Fasawi dan lain-lain dalam pendekatan kedua berikutnya. Di sini kami akan menegaskan kepada Anda wahai kaum Wahabi, “Ya, itu tidak menjadi persoalan bagi kami. Silahkan Anda mengikuti pendapat Anda sendiri yang tidak mengikuti ilmu hadits. Kami akan tetap konsisten dengan istighatsah dengan Nabi yang kami cintai dan orang-orang shaleh, yang telah wafat, dengan mengikuti madzhab ahli hadits dan ilmu mushthalah hadits. Kami akan selalu konsisten dengan ilmu mereka.”

WAHABI: “Apakah Anda masih men-shahih kan atsar dari Abu Ishaq al-Qurasyi, yang meriwayatkan istighatsah dari sebagian kaum Salaf di Madinah? Bukankah dia seorang perawi yang majhul?”

SUNNI: “Atsar dari Abu Ishaq al-Qurasyi tersebut juga shahih. Semua perawinya dalam Syu’ab al-Iman yang telah di-takhrij oleh kaum Wahabi Anda, menyatakan shahih. Hanya persoalannya Anda tidak mengetahui siapa sebenarnya Abu Ishaq al-Qurasyi tersebut. Al-Hafizh Ibnu Mandah menjelaskan dalam kitabnya Fath al-Bab fi al-Kuna wa al-Alqab:

أَبُو إِسْحَاق: إِبْرَاهِيم بن إِسْحَاق التَّيْمِيّ، من ولد عبيد الله بن معمر. كناه: مُحَمَّد بن إِسْحَاق السراج.
“Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq al-Taimi, dari keturunan Ubaidillah bin Ma’mar, telah di-kunyah-kan oleh Muhammad bin Ishaq al-Sarraj.” (Al-Hafizh Ibnu Mandah, Fath al-Bab fi al-Kuna wa al-Alqab, hal. 42, tahqiq Abu Qutaibah al-Faryabi, Maktabah al-Kautsar, Riyadh 1996). Penjelasan yang sama juga dinyatakan oleh al-Hafizh Abu Ahmad al-Hakim dalam kitabnya al-Kuna, makhthuth).
Mungkin Anda bertanya, dalam penjelasan di atas, tidak ada keterangan ta’dil dari Ibnu Mandah. Jawaban kami, tidak adanya keterangan ta’dil dari Ibnu Mandah mengandung dua kemungkinan, mungkin Abu Ishaq al-Qurasyi seorang perawi yang di-ta’dil, dan mungkin bukan perawi yang di-ta’dil. Sama-sama ada dua kemungkinan, tinggal dicarikan penguatnya. Ternyata al-Imam al-Baihaqi dan al-Hafizh al-Sakhawi mengutip atsar dari Abu Ishaq al-Qurasyi tersebut dalam konteks berhujjah. Dan hal ini cukup untuk men-ta’rif dan men-ta’dil Abu Ishaq al-Qurasyi, sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh al-Sakhawi dalam Fath al-Mughits, dan telah kami kutip dalam catatan sebelumnya. Plus, al-Imam al-Hafizh Muhammad bin Ishaq al-Sarraj, telah memujinya dengan memberinya kunyah Abu Ishaq al-Qurasyi, bukti bahwa Abu Ishaq al-Qurasyi bukan perawi majhul. Apakah Anda masih akan menuntut kami dengan mengutip dari ilmu mushthalah hadits??? Silahkan Anda baca catatan kami sebelumnya. Atau Anda pelajari ilmu hadits sesuai dengan madzhab ahli hadits, bukan firqah ahli hadats, yaitu kaum Wahabi. Kalau Anda belajar ilmu hadits mengikuti metodenya kaum Wahabi, selamanya Anda akan gagal menjadi pakar ilmu hadits. Al-Imam al-Muhaddits al-Faqih Syah Waliyullah Ahmad bin Abdurrahim al-Dahlawi berkata:

وَإِنَّ عِلْمَ الْحَدِيْثِ وَقَدْ أَبَى أَنْ يُنَاصِحَ لِمَنْ لَمْ يَتَطَفَّلْ عَلىَ الشَّافِعِيِّ وَأَصْحَابِهِ رضي الله عنهم وَكُنْ طُفَيْلِيَّهُمْ عَلىَ أَدَبٍ، فَلاَ أَرىَ شَافِعًا سِوىَ اْلأَدَبِ.
“Sesungguhnya ilmu hadits benar-benar enggan memberi dengan tulus kepada orang yang tidak membenalu kepada Imam Syafi’i dan murid-muridnya radhiyallaahu ‘anhum. Jadilah kamu benalu kepada mereka dengan beretika, karena aku tidak melihat penolong selain etika”. (al-Imam Syah Waliyullah Ahmad bin Abdurrahim al-Dahlawi, al-Inshaf fi Bayan Sabab al-Ikhtilaf, hal. 38-39.).
Mohon maaf atas keterlambatan catatan terbaru kami, karena banyaknya acara di luar kota. Wallahu a’lam.

Wassalam

Ustadz Muhammad Idrus Ramli


Simak Juga Catatan Ustadz Idrus Ramli Yang Lainnya :

Thursday, June 27, 2013

Menentukan Awal Ramadhan dan Syawal

fiqih
Kata puasa sudah demikian populernya di tengah masyarakat Indonesia. Secara umum, kata puasa dipakai tidak saja oleh pemeluk agama Islam, tapi juga oleh pemeluk agama Yahudi, Kristen, Hindhu , dan Buddha, bahkan dipakai juga oleh pemeluk keyakinan lain di masyarakat. Dalam bidang kesehatan,   amalan puasa ini juga telah dipakai juga secara khusus, dan telah berlangsung dalam waktu yang lama.

Secara syar’i, puasa didefinisikan sebagai ibadah khusus dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari makan,minum, dan melakukan hubungan suami isteri, serta hal-hal lainnya yang dapat membatalkannya, mulai dari terbit fajar sehingga terbenam matahari.

Sejarah puasa sudah berlangsung sangat lama, yakni ribuan tahun, di ruang lingkup agama-agama langit. Itulah sebabnya perintah puasa di dalam kitab suci Al-Qur’an memakai kata “seperti orang-orang sebelum kamu”. Meskipun tata cara pelaksanaannya memiliki perbedaan antara agama satu dengan lainnya, namun esensi puasanya tidak jauh berbeda. Sama-sama menahan diri dari hal-hal tertentu secara lahiriah maupun batiniah.

Dalam Islam, puasa sudah dilakukan nabi dan masyarakat Jahiliyah di Makkah, jauh sebelum risalah kenabian diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Ketika nabi pindah ke Madinah nabi dan para shahabat sudah melakukan puasa paling tidak tiga hari setiap bulannya, ditambah satu hari khusus pada hari ‘asyura, yaitu hari kesepuluh pada bulan Muharram. Ketika nabi hijrah ke Madinah, nabi tetap melakukan puasa seperti ini. (HR. Imam Baihaqi)

Pada tanggal 29 bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah, Allah menurunkan perintah ibadah puasa  sesuai yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 183.

Ru'yatul Hilal dan Istikmal

Bagaimanakah cara menentukan awal dan akhir Ramadhan……?

Sebagai ibadah yang merupakan salah satu dari lima dasar agama Islam, tentu menentukan awal dan akhir Ramadhan ini merupakan sesuatu yang sangat penting dan tidak dapat dianggap enteng. Dalam hal ini, nabi kita pun telah memberikan petunjuk untuk diamalkan oleh seluruh umat Islam. Ternyata tanggung jawab akan hal tersebut dipikulkan kepada seluruh umat Islam secara umum dan meluas, dan tidak nabi pikulkan kepada segelintir orang  yang berilmu saja. Buktinya nabi tidak memberikan tanggung jawab itu kepada ahli hisab yang jumlah orangnya dari zaman nabi dahulu sampai sekarang hanya segelintir saja keberadaannya. Akan tetapi menentukan awal dan akhir Ramadhan diberikan nabi kepada setiap mukmin yang mempunyai mata dan dapat menyaksikan bulan dengan mata mereka itu.Hadis nabi: “Berpuasalah kamu jika sudah melihat hilal, dan berhari rayalah kamu jika sudah melihat hilal. Jika hilal tertutup dan tidak terlihat olehmu, maka sempurnakanlah bulan itu menjadi tiga puluh hari" (HR. Imam Nasa’i, Bukhari, Muslim, Turmidzi)
Dalam hadis di atas ternyata ada dua cara menentukan awal dan akhir Ramadhan itu. Pertama, dengan ru’yatul hilal (melihat hilal), dan alternatif kedua jika hilal tidak terlihat dengan istikmal, yakni menggenapkan bilangan bulan tersebut menjadi 30 hari. Lebih kurang ada 14 hadis shahih dari berbagai periwayatan yang menjadi landasan penetapan Ramadhan dengan dua cara tersebut.
Tiga dari empat mazhab yang ada, Hanafi, Maliki, dan Syafi’i ditambah dengan pengikut Ibnu Taimiyah dan mayoritas ulama salaf dan khalaf sepakat bahwa menentukan awal dan akhir Ramadhan adalah dengan ru’yatul hilal dan melakukan istikmal jika bulan tidak terlihat. Hanya Imam Hambali dan sebagian kecil kelompok ulama yang memakai dasar penetapan dengan cara hisab, yakni perhitungan peredaran bulan secara astronomi. Itupun dilakukan bila bulan tidak terlihat pada senja tanggal 29 Sya’ban itu. (lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab jilid 7 halaman 448).

Dengan demikian, jelas bagi kita bahwa seluruh ulama empat madzhab sebenarnya sudah sepakat bahwa menetapkan awal Ramadhan adalah dengan memakai metode ru’yatul hilal, dan tidak ada satupun ulama yang menetapkan awal bulan Ramadhan dengan memakai metode hisab. Lain halnya bila hilal tertutup awan, barulah timbul ikhtilaf, mayoritas memakai istikmal, yakni menggenapkan bulan menjadi 30 hari, dan minoritas ulama Hambali memakai Hisab atasnya. Andai saja di negeri ini mau bersepakat dengan dua metode yang diajarkan Rasulullah ini, pastilah tidak akan terjadi awal Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri yang berbeda.

Perlu digaris bawahi bahwa menurut keterangan di atas, semestinya pengumuman tentang Iedul Fitri pada pihak yang istikmal (menambahkan puasa sehari lagi), ataupun pihak yang berhari raya besoknya, dilakukan pada saat yang bersamaan, yaitu pada malam 29 Ramadhan. Tidak seperti yang terjadi sekarang ini di Indonesia, di mana ada pihak yang jauh jauh hari sudah mengumumkan tanggal Iedul Fitri yang mereka pilih. Hal itu tentu saja membuat umat bingung dan menimbulkan keresahan di tengah orang awam.Sesuatu yang semestinya tidak boleh terjadi.....

Seperti yang sudah kita ketahui tahun tahun belakangan ini masyarakat Indonesia dihebohkan oleh issu panas tentang kapan sebenarnya Hari Raya 1 Syawal ?

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin dalam websitenya http://tdjamaluddin.wordpress.com menjelaskan bahwa penyebab utama perbedaan Idul FItri dan Idul Adha’ bukan karena perbedaan metode hisab atau metode rukyat, tetapi terletak pada perbedaan kriterianya. Muhammadiyah bersikukuh menggunakan hisab wujudul hillal. Artinya, jika bulan sudah wujud meskipun ketinggiannya masih tidak mungkin terlihat (di bawah batas imkan rukyat), maka tetap diputuskan esok hari adalah Hari Raya. Metode ini adalah metode usang yang sudah ditinggalkan oleh para ahli ilmu perbintangan di seluruh dunia. Demikian Prof. Dr. Thomas Djamaluddin dari Lembaga Antariksa Nasional (LAPAN).

Sikap kita yang paling bijak adalah menunggu keputusan Sidang Itsbath Nasional yang melibatkan seluruh Ormas Islam se-Indonesia, Pengadilan Tinggi Agama se-Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, Lembaga BOSCHA, ITB dan seluruh pakar Hisab - Rukyat yang ada di Indonesia.

Bagaimana pun kebenaran, Iman, dan ilmu tidak akan bertentangan. Dan yang lebih perlu adalah menyatukan diri dalam sunah nabi serta membuat tentram kalangan umat Islam akhir zaman yang memang mudah terjerumus dalam kebingungan…….

Wallahu a’lam bishshawab

Aliy Faizal

Ulama Wahabi : Rodja TV itu Penghiasan dari Setan dan Terancam Kutukan

fakta wahabi
Salah seorang ustadz Rodja TV
Salah seorang ulama Salafi yang juga Imam Darul Hadits Dammaj Yaman, yakni Syaikh Yahya Al Hajuriy berbicara mengenai dakwah via TV Rodja yang dipakai oleh sebagian penganut Salafi di Indonesia.

Dakwah Salafi Sururiy di Indonesia sekarang sudah pakai TV, namanya TV Rodja, ada gambar ustadznya pula.  Orang awam mulai menyukai, padahal hal tersebut batil menurut sebagian Salafi.

Seseorang bertanya:

Apa hukum menggambar dengan video di masjid, dan menampilkan pita video yang berisi film Islamiyyah di masjid atau di ceramah-ceramah?

Jawaban Ulama Salafi Syaikh Yahya Al Hajuriy:

"menggambar makhluk bernyawa adalah termasuk fitnah yang umat Islam diuji dengannya. Si penceramah diambil gambarnya, si pengajar diambil gambarnya. Terkadang mendatangkan alat  gambar dan orang-orang sholat tarwih lalu mereka mengambil gambar mereka dalam keadaan seperti itu dan menyebarkannya dalam video. Untuk tujuan apa? Mereka menjawab: “Untuk melihat orang-orang.” Alangkah mengherankannya! Ini adalah penghiasan dari setan untuk menghiasai kemaksiatan yang diancam dengan kutukan. Maka dalam hadits Abu Juhaifah:

ولعن المصور
“Dan beliau melaknat tukang gambar.” (HR. Al Bukhoriy (2088)).
Dan tukang gambar jika terlaknat maka engkau tidak boleh baku bantu dengannya dalam dosa besar ini."

Lihat dan perhatikanlah, bahkan sesama Salafi wahabi saja saling baku hantam , apalagi terhadap kelompok di luar Salafy? Bisa lebih keras lagi, ada vonis bid'ah, sesat, syirik, kafir, dan lain-lain. Rodja TV merupakah salah satu produk Salafy Wahabi sedangkan ulama Salafi di Yaman memvonis Rodja TV sesat.

Referensi:
- http://isnad.net/kumpulan-soal-jawab-bulan-shafar-1434-h (Website Wahhabi)

Beberapa Perkara Sunat Dalam Puasa Ramadhan

fiqih - puasa
Dalam melaksanakan puasa Ramadhan ada beberapa perkara yang disunatkan untuk dilakukan oleh seluruh kaum muslimin yang sedang berpuasa. Perkara yang sunat ini tentu saja akan memperindah dan menambah tinggi nilai ibadah puasa seseorang. Dalam Islam sudah diketahui bahwa setiap perkara sunat akan menjadi tambahan pahala bila dikerjakan, dan merupakan kerugian bila ditinggalkan.

Beberapa perkara yang disunatkan itu adalah:

1. Menyegerakan berbuka

Saat berbuka menurut al qur’an surat al Baqarah ayat: 187 : “Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai menyentuh bibir malam”

Rasulullah bersabda: “Senantiasa manusia itu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa” (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadis yang lain diriwayatkan: “Bahwasanya Rasulullah SAW ketika berpuasa tidak melakukan sholat magrib terlebih dahulu sebelum dihidangkan kepada beliau ruthab (kurma basah) atau air, kemudian beliau memakan ruthab itu dan meminum air. Dan pada musim penghujan beliau tidak melaksanakan sholat magrib sebelum kami, para sahabat, menghidangkan tamar (kurma kering) atau air”. (HR. Ibnu Hibban, Shohih)

Jika seseorang sengaja melewatkan waktu berbuka karena meyakini bahwa semakin malam waktu berbuka akan semakin tinggi keutamaan yang diperolehnya, maka orang yang melakukan ini kehilangan pahala sunat menyegerakan berbuka itu. Bahkan, Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, karangan beliau, menghukumkan makruh atas perbuatan itu.

Sekarang ini di Indonesia ada segelintir umat di Sulawesi Selatan yang justru melakukan buka puasa setelah malam sempurna menjelang. Hal ini mereka lakukan karena mereka salah mengartikan al Qur’an surat Al Baqarah ayat 187 di atas. Kata-kata yang dipakai pada ayat tersebut adalah “ila al laili” yang berarti, sampai menyentuh bibir malam, yakni waktu maghrib. Lain halnya jika ayat itu berbunyi “hatta laila”, yang berarti sampai sempurnanya malam menjelang. Hal ini perlu menjadi perhatian, agar tidak terikut dengan kekeliruan mereka…..!

Disunatkan juga berbuka dengan buah-buahan yang manis jika tidak didapati kurma. Para ulama menjelaskan bahwa berbuka puasa sunat dengan makanan atau minuman yang tidak dibakar api. Sekarang ini penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa gula darah orang yang berpuasa turun drastis, dan akan naik secara wajar jika mengkonsumsi buah-buahan yang rasanya manis. Tidak baik jika berbuka dengan minuman atau makanan yang berisi gula buatan, bukan gula alam (monosakarida), karena dapat menyebabkan gula darah naik drastis dan dapat membahayakan orang yang berpuasa itu.

2. Mengakhirkan makan sahur

Sunat bagi kaum muslimin yang melaksanakan ibadah puasa untuk mengakhirkan waktu makan sahurnya. Hal ini berdasarkan hadis Nabi: “Sesungguhnya mengakhirkan sahur adalah termasuk perbuatan sunat yang telah dilakukan oleh para Rasul Allah”. (HR. Ibnu Hibban, Shohih)

Dalam hadis yang lain Rasulullah pernah bersabda: “Senantiasa umatku selalu berada dalam kebaikan selama mereka mau menyegerakan berbuka puasa, dan mengakhirkan makan sahur.” (HR. Imam Ahmad)

Para ulama telah sepakat tentang sunatnya mengakhirkan sahur ini. Dan kesunatannya itu dapat diperoleh seseorang walaupun hanya sekedar makan sedikit atau minum air saja. Hal ini sesuai dengan hadis nabi: “Makan sahurlah kamu walau hanya dengan seteguk air”.(H.R. Ibnu Hibban, shohih).

Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah al Muhadzdzab dan Imam Rafi’i pada akhir Kitabul Aiman menjelaskan bahwa masuknya waktu sahur itu ialah pada pertengahan malam.

Berhentinya seseorang dari makan sahur adalah sekitar kurang lebih sepuluh menit sebelum adzan Subuh berkumandang. Hal ini sesuai dengan hadis nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bahwasanya nabi dan para sahabat berhenti dari makan dan minum selama selang waktu kira-kira bacaan 50 ayat al qur’an sebelum berkumandang adzan Subuh. Para ulama di Indonesia menghitung lama waktu bacaan 50 ayat al qur’an itu sekitar 10 – 12 menit. Waktu ini disebut waktu imsak.

Sekarang ini di Indonesia ada juga segelintir orang yang menganggap berhentinya makan dan minum ketika sahur sampai berakhirnya adzan Subuh. Mereka menolak adanya waktu imsak, padahal nabi dan para sahabat juga memakai waktu imsak ini.

3. Menjauhi perkataan yang buruk

Orang yang berpuasa sangat dituntut untuk menjaga lidah agar tidak melakukan perkataan dusta, mengumpat orang lain,  diri sendiri, serta hal-hal lain yang diharamkan. Perkataan dusta dan perbuatan haram lainnya dapat  menghancurkan ibadah puasa dan pahala puasa seseorang. Meskipun tidak sampai menyebabkan puasanya menjadi batal yang menuntut qadha (ganti), namun nilai pahalanya menjadi musnah. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta atau perbuatan yang menjadi pernyataan dari dusta, maka Allah tidak akan membutuhkan orang itu dalam puasanya, meskipun dia meninggalkan makan dan minum (berpuasa)” (HR. Bukhari).

Dalam hadis lain Rasulullah bersabda: “Banyak orang yang berpuasa, dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali lapar saja. Dan banyak sekali orang yang melakukan sholat terawih tapi orang itu tidak mendapatkan sesuatu dari sholatnya kecuali mengantuk” (HR. Hakim, dengan syarat Imam Bukhari). Hal ini berkenaan dengan pelaku puasa yang tetap saja melakukan  kemaksiatan dengan anggota tubuhnya saat puasanya sedang berlangsung.

Selain menjaga lidah dari maksiat, tentu saja orang yang berpuasa mesti menjaga matanya, dan telinganya, serta tangannya dari perkara-perkara maksiat. Betapa pada zaman ini, terlalu banyak hal-hal yang merusakkan ibadah puasa seseorang melalui mata. Di mana-mana banyak wanita membuka aurat mereka sedemikian dahsyatnya, tanpa mengenal malu, padahal mereka ketika mengobral aurat itu sedang berpuasa pula. Sayang sekali…..!

Begitu juga dengan gosip dan berita-berita fitnah yang berseliweran dalam sendi kehidupan umat saat ini, baik dalam pergaulan sehari-hari sampai kepada siaran media massa elektronik.

Perjuangan kaum muslimin yang berpuasa benar-benar berat di akhir zaman ini. Pantaslah kiranya jika nabi menjanjikan dalam satu hadisnya kepada orang-orang yang menghidupkan sunnah nabi di akhir zaman di saat umat sudah rusak, akan memperoleh pahala mati syahid di sisi Allah SWT.

Semoga…..Aamiin…..!

Wallahu A’lam Bishshowab.

Aliy Faizal

Simak Juga :

Ramadhan Bulan Latihan (Marhaban Yaa Ramadhan)

fiqih - puasa
Alhamdulillah, tidak terasa usia bagai berlari, kini Ramadhan datang menjelang lagi. Bulan ini adalah bulan yang sangat istimewa dan memiliki nilai tersendiri di hati setiap orang yang memiliki iman di dalam dada mereka. Memang bagi orang yang dimabuk rindu, dan ingin selalu berdekat-dekat dengan Allah, angin Ramadhan bahkan sudah mulai tercium harumnya saat bulan masih dalam lingkungan Rajab, salah satu bulan haram yang agung itu. Semakin dekat ke ujung Rajab, maka semakin terasa dan kuat pula harum Ramadhan. Ketika bulan sudah memasuki Sya’ban, debaran jantung semakin berdetak kuat. Kerinduan pada Ramadhan pun bertambah menyentak. Pantaslah kiranya jika Nabi kita yang mulia pun senantiasa melantunkan doa saat Rajab dan Sya’ban menyongsong: “Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban, Wa ballighna Ramadhan.”, “Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan nanti.” (HR Turmidzi).

Nabi sendiri sangat rajin mengisi bulan-bulan Beliau dengan puasa sunnat. Paling tidak setiap bulan Nabi pasti berpuasa sekitar sebelas hari. Mungkin ada pertanyaan yang muncul dibenak kita benarkah Nabi puasa sebelas hari tiap bulan? Untuk menjawabnya kami dengan tegas mengatakan bahwa Nabi paling tidak setiap bulan berpuasa pada tiap hari Senin dan Kamis, maka itu berarti puasa Nabi berjumlah delapan hari (HR. Muslim). Dan setiap bulan pula, Nabi kita juga berpuasa tiga hari pada pertengahannya, yakni tanggal 12, 13, dan 14, yang disebut Puasa Putih/Ayyamul biidh (HR. Abu Dawud). Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, pada ayat 36 surat At-Taubah, dijelaskan pula, bahwa setiap bulan-bulan haram; Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram, disunnatkan memperbanyak ibadah, demi keagungan bulan-bulan tersebut. Berarti jumlah hari-hari Nabi berpuasa di bulan-bulan haram itu pasti lebih banyak lagi dibandingkan jumlah puasa Nabi pada bulan-bulan biasa.

Dari keterangan ini, kelihatan oleh kita kekeliruan orang yang membid’ahkan serta mengharamkan puasa di bulan Rajab dan Sya’ban. Apalagi, sejarah hidup nabi telah dicatat, dan termaktub pada seluruh kitab-kitab agama Islam dari berbagai madzhab yang ada, hanya tercatat enam hari saja yang diharamkan atas kaum muslimin berpuasa dalam setahun. Puasa-puasa itu adalah : Hari Raya Idul Fitri, Idul Adh-ha, 3 Hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), dan Hari Syak, (ragu), yakni satu hari terakhir bulan Sya’ban. Itu sajalah enam hari yang haram berpuasa padanya, dan tidak ada hari yang lain lagi!

Nah, jika saja sepanjang bulan Rajab diharamkan berpuasa atas kaum muslimin, karena hukumnya bid’ah, maka berarti telah bertambahlah satu Syari’at Islam Baru. Puasa yang haram berubah menjadi 36 hari dalam setahun. Sungguh sebuah faham yang perlu diwaspadai, berbahaya, ekstrim, dan jelas-jelas menentang nabi kita yang mulia itu.

Perlunya Pemanasan

Disebutnya bulan Rajab dan Sya’ban serta dirangkaikan dengan Ramadhan oleh Rasulullah pasti tidak sembarangan dibuat begitu saja. Bagi orang yang cerdas, terasa sekali ada makna yang tersembunyi dalam doa di atas. Paling tidak, kita menangkap perlu adanya sebuah persiapan dan latihan, bagi menyambut bulan besar yang merupakan ladang ampunan dosa global dari Allah yang Maha Pemurah itu. Ibarat pertandingan olah raga, sebelum turun bertanding di lapangan, pastilah diperlukan pemanasan terlebih dahulu, agar tubuh tidak terkejut, dan otot tidak kejang-kejang.

Bulan Ramadhan sangat istimewa, dimana setiap detik dan jam yang berlalu bernilai ibadah. Rangkaian ibadah terus-menerus bersambung mulai dari fajar saat makan sahur, berlanjut dengan sholat subuh, kemudian melakukan amalan dzikir ba’da subuh yang disunatkan itu, kemudian sholat Isyraq (awal Dhuha), sholat Dhuha, sholat Dzuhur, sholat Ashar, kemudian tiba saat berbuka puasa, sholat Maghrib. Ibadah berlanjut dengan sholat Isya, dan Tarawih 20 Raka’at, kemudian tadarrus al-Qur’an, sholat al-Lail, dan tahajjud, ditutup dengan sholat Subuh lagi. Rangkaian amal ini berlanjut terus selama sebulan penuh, dilaksanakan dengan perut lapar dan tubuh lemah karena sedang berpuasa. Betapa sangat memerlukan kekuatan fisik yang prima!

Allah menjanjikan ampunan dari segala dosa yang kecil maupun yang besar (tentunya diperlukan tobat untuk menghapus dosa besar ini), juga pahala yang besar, yang hanya Allah sendiri yang tahu besaran dan nilai pahala itu. Upah yang paling tinggi seiring dengan berlalunya Ramadhan adalah gelar taqwa yang akan Allah sematkan pada diri setiap mukmin yang lulus latihan dan ujian di bulan Ramadhan itu. Bagaimanapun, orang bartaqwa bukanlah orang yang sembarangan. Mereka yang bertaqwa akan mampu mempertahankan setiap rangkaian amal yang sudah dilatihnya selama Ramadhan itu. Tidak mungkin rasanya jika orang bertaqwa kembali bergelimang maksiat seiring dengan berlalunya Ramadhan.

Di antara amalan fisik di bulan Ramadhan itu, terdapat sebuah amalan materil, yakni membayar zakat. Allah mewajibkan setiap mukmin yang mampu untuk membayar zakat hartanya sebesar 2,5%, atau 1/40. Jumlah 2,5% itu adalah jumlah yang sangat kecil, dan sama sekali tidaklah memberatkan kaum muslimin. Setiap mukmin yang tidak tergolong fakir-miskin, meskipun tidak kaya, diwajibkan pula membayar zakat fitrah ini.

Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali, tiga ulama Madzhab Ahli Hadis tidak memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan uang, tetapi mesti membayar dalam bentuk beras, gandum, atau makanan pokok lainnya. Di lain pihak, Imam Hanafi, dan Sahabat-sahabatnya, mazhab ahli ra’yi mengatakan, bahwa pembayaran zakat fitrah wajib jumlahnya sebanyak satu sha’. Satu sha’ itu serupa dengan delapan rithil Irak, di mana nilai satu rithil menyamai nilai 130 dirham. Menurut kitab Fathul Qadir jilid II, halaman 36 - 41 dan kitab Bada- i’, jilid II halaman 72 dijelaskan bahwa 130 dirham itu senilai dengan 3,8 kilogram. Meskipun jika dibayarkan dengan uang, zakat fitrah itu tetap sah adanya hanya saja nilainya mesti setara dengan 3,8 kilogram. (lihat kitab Fiqh Islam Wa Adillatuhu, jilid III halaman 2044, karangan Wahbah Az-Zuhaily).

Hal ini perlu mendapat perhatian, sebab banyak orang hari ini tidak megetahui secara terperinci masalah ini, mereka terbiasa membayarkan zakat fitrah dengan uang saja, sesuai dengan kaidah fiqih Imam Hanafi. Akan tetapi nilai uang yang dibayarkan hanya setara dengan 2,5 kilogram sesuai dengan fatwa Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya. Seharusnya jika konsisten nilai uang yang dibayarkan meski setara dengan 3,8 kilogram beras atau gandum sesuai dengan fatwa Imam Hanafi. Amalan asal comot di atas keliru dan tidak konsisten. Dalam ilmu fiqih amalan seperti ini disebut talfiq, alias tertolak! Karena tidak satu imam pun yang mengakui dan akan mempertanggung jawabkan keberadaannya.

Akhirnya semoga kita dapat berlatih menjadi insan yang taqwa, dapat mengisi bulan Ramadhan yang akan datang menjelang ini dengan hati ikhlas, penuh tawakkal pada Allah. “Ya Allah jika sampai umur kami di bulan Ramadhan pilihlah kami dengan Taufiq-Mu agar dapat beramal dengan sempurna di bulan itu. Namun jika tidak sampai umur kami di bulan itu, kami bermohon catatkanlah kami sebagai orang yang mencintai Ramadhan-Mu Bulan agung penuh berkah itu. Aamiin.

Wallahu A’lam Bishshowab

Aliy Faizal

Tuesday, June 25, 2013

Ilmu dan Cara Mendapatkannya

al qur'an
Ilmu adalah pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba yang diinginkan-Nya. Usaha manusia untuk mendapatkan ilmu diwajibkan oleh Allah dalam beberapa hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Artinya, manusia berdosa jika meninggalkan usaha dalam mendapatkan ilmu itu. Sebaliknya, jika usaha sudah dilakukan, sementara ilmu itu tidak juga dapat dikuasai, maka orang tersebut sudah terhindar dari kesalahan, sebab yang wajib adalah menuntut ilmu, bukan mendapatkannya. Adapun mendapatkan ilmu, semata-mata hanyalah karunia Allah saja.

Dengan demikian janganlah merasa kecewa dan putus asa jika seseorang sudah belajar suatu ilmu tertentu pada waktu yang lama, ternyata orang itu gagal menguasai ilmu tersebut. Ini bukan lagi salahnya, akan tetapi memang Allah tidak berkenan memberikan ilmu itu padanya.

Dalam kenyataan hidup ini banyak kita jumpai orang yang belajar membaca Al-Qur’an, misalnya, sudah bertahun-tahun melakukannya dengan sungguh-sungguh, namun ternyata hasil yang dia peroleh tidak sesuai harapan. Dia tetap saja tidak dapat mengucapkan huruf-hurufnya dengan fashih, dan banyak melakukan kesalahan dalam tajwid dan waqaf-ibtida’nya. Kenapa bisa terjadi? Tidak lain karena tidak diberikan oleh Allah. Hal ini sudah Allah jelaskan dalam surat Bani Israil ayat 85 :
Artinya:   “Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit saja”
Bagaimanakah cara mendapatkan ilmu itu?

Ilmu itu dapat diperoleh oleh seseorang dengan melalui beberapa jalan. Tidak seperti yang sering dianggap oleh kebanyakan orang bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan belajar dan menuntutnya . Di antara cara mendapatkan ilmu itu antara lain :

1. Belajar, dan menuntut ilmu tersebut dari orang lain.

Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
Artinya : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan .”
Dalam hadits yang lain :
Artinya : “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah membuatnya berjalan di salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada pencari ilmu. Sesungguhnya orang berilmu dimintakan ampunan oleh makhluk yang berada dia langit dan bumi, serta ikan di tengah hari. Sesungguhnya keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada saat purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mewariskan ilmu. Barangsiapa mendapatkannya, ia mendapatkan keuntungan yang besar.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ad Darimi)
2. Diajarkan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa diajarkan oleh orang lain.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala  dalam Surat Al Baqarah ayat 31 :
“Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”
3. Ilmu didapat dengan beramal.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
Artinya: “Barangsiapa mengamalkan satu ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu-ilmu lain yang sebelumnya dia tidak tahu.” (HR. Abu Nu’aim).
Tidak heran jika banyak orang-orang sholih yang rajin beramal dianugerahi Allah banyak ilmu sebagai buah amal yang rajin dilakukannya bertahun-tahun. Ilmu yang tidak diperoleh oleh orang-orang yang banyak bicara dan berdebat dengan orang lain!

4. Ilmu didapat dengan bertaqwa.

Firman Allah Subhanallahu Wa Ta’ala Surat Al Baqarah ayat 282:
Artinya: “Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
5. Ilmu dapat diperoleh dengan diajarkan oleh makhluk lain

Di zaman dahulu ketika manusia baru pada generasi pertama, telah terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil, salah satu putera Nabi Adam Alaihissalam, terhadap saudara kandungnya yang sholih, Khabil. Setelah Qabil membunuh saudaranya itu, dia ketakutan dan kebingungan karena tidak tahu bagaimana caranya mengamankan tubuh saudaranya yang sudah menjadi mayat itu. Tiba-tiba dengan perintah Allah turunlah sepasang burung gagak yang saling tempur di depannya, kemudian salah seekor dari gagak itu mati. Kemudian gagak yang menang menggali lubang serta menguburkan gagak yang mati. Maka, terkesimalah Qabil dan dia pun mendapatkan ilmu dari burung itu. Kisah ini ada dalam Al-Qur’an surat al Maidah ayat 30-31.

Beberapa jurus-jurus bela diri terkenal dari mancanegara banyak yang dipelajari dari cara binatang berkelahi, seperti jurus kucing, jurus harimau, jurus bangau, jurus ular dan lain-lain sebagainya.

Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada dikisahkan beberapa orang sahabat nabi, justru mendapatkan ilmu sebab diajari oleh syaitan. Kisah tersebut antara lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu telah berkata dia :
“Aku ditugaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjaga hasil zakat pada bulan Ramadhan.Tiba-tiba datanglah seseorang kepadaku, dan mengambil sedikit dari zakat itu, maka aku menangkapnya seraya berkata, ”Kamu akan kuadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Orang itu berkata, “Biarkan aku. Sesungguhnya aku orang miskin, punya banyak anak, dan sangat membutuhkan. Maka aku pun melepaskannya. Pada keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu kemarin ?” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, dia mengadukan kemiskinannya dan kelurganya yang banyak, maka aku kasihan dan aku membebaskannya.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang itu berdusta kepadamu, dan dia akan kembali.” Saya sadar bahwa orang itu akan kembali karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakannya. Maka aku pun mengintipnya. Ternyata ia datang untuk mengambil makanan. Maka aku menangkapnya lagi seraya berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Dia berkata, “Lepaskan aku. Sesungguhnya aku sangat membutuhkan dan punya keluarga yang banyak, saya tidak akan kembali.” Maka aku pun mengasihaninya dan membebaskannya lagi. Keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang telah dilakukan tawananmu kemarin ?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan kemiskinan dan jumlah kelurganya yang banyak, maka aku pun kasihan dan membebaskannya lagi.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya dia berdusta kepada mu dan dia akan kembali.” Maka pada yang ketiga kalinya aku mengintipnya kembali. Dia datang mengambil makanan. Segera aku menangkapnya seraya aku berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah. Ini adalah yang ketiga kalinya kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan kembali, namun nyatanya engkau kembali lagi.” Dia berkata, “Biarkan aku mengajari mu beberapa kalimat yang dengannya kamu akan beroleh manfaat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Saya bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata, “Apabila kamu hendak tidur maka bacalah ayat kursi, “Allah, Tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal dan terus menerus mengurus makhluknya….” Dia membaca hingga akhir ayat. “Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi”. Maka aku pun membebaskannya. Keesokan hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Apa yang telah dilakukan oleh tawanan mu kemarin?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia telah mengajariku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberiku manfaat, maka aku pun melepaskannya”.  Beliau bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata kepadaku, ”Apabila kamu akan tidur, maka bacalah Ayat kursi dari awal hingga dia menyelesaikan ayat “Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya…“ Dia berkata kepadaku, “Allah akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan syaitan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” Para sahabat sangat menyukai kebaikan. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dia telah berkata benar kepadamu, dan sebenarnya dia adalah pendusta. Hai Abu Hurairah, tahukah dengan siapa kamu berbicara selama tiga malam itu ?” Saya menjawab, “tidak.” Nabi bersabda, “Dia adalah Syaitan.”  (HR. Bukhari) .
Hadits ini menunjukkan bahwa apabila Allah berkehendak, maka Dia mampu untuk memerintahkan siapa saja, bahkan termasuk syaitan sekalipun untuk memberikan ilmu dan pelajaran kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Kisah yang senada dengan kisah di atas pernah dialami oleh beberapa shahabat Nabi yang berbeda. Silakan ruju’ pada kitab Tafsir Ibnu Katsir keterangan pada ayat kursi, surat Al-Baqarah ayat 255.

Di dalam kitab Tanbihul Ghafilin ada lagi dikisahkan sebuah hadits tentang perjumpaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Iblis la’natullah ‘alaihi, di mana ketika itu Iblis telah diperintahkan oleh Allah untuk mengajari Rasulullah tentang sepuluh jenis manusia sahabat Iblis dan sepuluh jenis yang menjadi musuhnya. Dialog antara Rasulullah dan Iblis itu menjadi pelajaran yang berharga bagi  ummat Islam sampai sekarang ini.

Wallahu A’lam bishshowab.

Aliy Faizal

Monday, June 24, 2013

Keajaiban Hujan Dalam Al-Quran & Hadist

kebenaran islam
Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat. Hujan–yang memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.

Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupaka kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

Kadar Hujan

Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf, (43):11)
Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.

Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.

Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun,  kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).

Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.

Pembentukan Hujan

Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.

Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:
“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat  hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum, (40):48)
Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Tahap Pertama: “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”

Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.

Tahap  Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”

Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat  hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.

Wallahu A’lam bishshowab.

Aliy Faizal

Sunday, June 23, 2013

Semut Pun Melindungi Pepohonan

kebenaran islam
Semut. Pasti kita sering melihat semut, binatang yang sangat kecil itu. Apalagi kalau digigit oleh semut, pasti gigitannya terasa sangat sakit di tubuh kita, bukan? Meskipun dia bertubuh kecil, tapi Allah jadikan bangsa semut ini berguna untuk makhluk lainnya. “Keseimbangan ekologi” yang Allah ciptakan dapat membuat kehidupan saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain. Yuk, lebih lanjut kita pelajari kehidupan semut…

Semut-semut ini memanjat pohon, melindungi pohon dari ulat penyerang pohon yang suka memakan pohon dan daun. Allah menjadikan koloni semut suka memakan ulat.

Di dalam kantung tumbuhan yang diberi nama “kantong-semar“ Nepenthes bicalcarata yang hidup di sebelah India Timur, hiduplah koloni semut. Tumbuhan ini bentuknya seperti teko dan memangsa serangga yang menghinggapinya. Meskipun demikian, semut bebas bergerak dan mengambil sisa-sisa serangga dan bahan makanan lainnya dari tumbuhan ini.

Kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak, semut dan tumbuhan. Meski semut mungkin saja dimakan oleh Nepenthes, namun mereka dapat membangun sarang pada tumbuhan ini. Sang tumbuhan juga menyisakan jaringan tertentu dan sisa-sisa serangga untuk semut. Sebagai balasannya, semut melindungi tumbuhan dari musuhnya.

Begitulah contoh hubungan kehidupan antara tumbuhan dan semut. Bentuk anatomi dan fisiologi semut dan tumbuhan inangnya telah dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan hubungan timbal balik antara keduanya. Meskipun para pembela teori evolusi menyatakan bahwa hubungan antarjenis makhluk hidup ini berkembang secara berangsur-angsur selama jutaan tahun, tetapi tentu saja pernyataan yang mengatakan bahwa dua makhluk yang tidak memiliki kecerdasan ini dapat sepakat merencanakan suatu sistem yang menguntungkan kedua belah pihak tidaklah masuk akal. Lalu, apa yang menyebabkan semut hidup pada tumbuhan?

Ternyata, semut cenderung tinggal pada tumbuhan karena adanya cairan bernama “nektar tersisa” yang dikeluarkan tumbuhan. Cairan nektar ini merupakan daya tarik bagi semut untuk mendatangi tumbuhan. Banyak spesies tumbuhan yang terbukti mengeluarkan cairan ini pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, pohon ceri hitam menghasilkan cairan ini hanya tiga minggu dalam setahun. Tentu pengeluaran cairan pada waktu ini bukan kebetulan karena waktu tiga minggu tersebut bertepatan dengan waktu sejenis ulat menyerang pohon ceri hitam. Semut yang tertarik pada nektar dapat membunuh ulat ini serta melindungi tumbuhan.

Hanya dengan menggunakan akal sehat, kita dapat melihat bahwa hal ini adalah bukti hasil penciptaan. Akal sehat tidak mungkin bisa menerima bahwa pohon ini dapat memperhitungkan kapan bahaya akan menyerang lalu memutuskan bahwa cara terbaik untuk melindungi dirinya adalah dengan cara menarik perhatian semut serta mengubah struktur kimianya. Pohon ceri tidak punya otak. Oleh karena itu, ia tidak dapat berpikir, memperhitungkan, maupun mengubah campuran kimianya. Bila kita menganggap bahwa cara cerdas ini adalah sifat yang diperoleh dari suatu kebetulan, yaitu dasar berpikir evolusi, tentu ini tidaklah masuk akal. Jelas sekali bahwa pohon ini telah melakukan sesuatu yang didasarkan pada kecerdasan dan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, satu-satunya kesimpulan yang dapat kita tarik adalah bahwa sifat tumbuhan ini telah terbentuk karena adanya sebuah Kehendak yang telah menciptakannya. Bila kita merujuk pada segala bentuk pengaturan yang dibuat-Nya, jelas sekali bahwa Dia tidak hanya berkuasa atas pohon, tetapi juga atas semut dan ulat. Jika penelitian dilakukan lebih jauh lagi, tentunya dapat diketahui bahwa Dia berkuasa atas semesta alam dan telah mengatur setiap bagian alam secara terpisah namun serasi dan selaras sehingga membentuk sebuah rangkaian sempurna yang kita kenal sebagai “keseimbangan ekologi”. Bila kita berpikir lebih jauh dan meneliti bidang-bidang lain, seperti geologi dan astronomi, kita akan sampai pada gambaran yang serupa. Ke mana pun kita melangkah, kita akan menyaksikan berjuta sistem yang berfungsi dengan selaras dan teratur sempurna. Semua sistem ini menunjukkan keberadaan Sang Pengatur. Meskipun demikian, tidak satu pun unsur pembentuk alam ini yang mampu berfungsi sebagai Sang Pengatur itu. Oleh karena itu, Sang Pengatur haruslah Dia Yang Maha Tahu dan Maha kuasa atas alam semesta. Al- Qur’an menggambarkan Sang Penguasa sebagai berikut:

“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepadanya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Hasyr, 59:24) Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Allahu akbar walillahil hamd…

Wallahu A’lam bishshowab.

Aliy Faizal

Perkembangan Islam Rusia Meningkat Drastis

kisah mualaf
Pakar Asia Tengah: Rusia Menjadi Negara Islam di Tahun 2050

Para pakar yang berkonsentrasi pada wilayah Asia tengah, memprediksikan Rusia akan berubah menjadi negara Islam di sekitar tahun 2050 nanti. Mereka berharap negara seperti Mesir terus merangkul negara-negara persemakmuran Rusia yang berpenduduk muslim yang mencintai serta menjaga nilai-nilai Islam dan budaya Arab. Dari negara mereka telah lahir para ulama ternama di berbagai bidang ilmu keislaman, seperti Imam Bukhari dan Tirmizi, serta ulama lainnya yang banyak memberikan pengaruh dan kontribusi kepada dunia Islam.

Muhammad Salamah, spesialis Asia Tengah dan negara persemakmuran Rusia dalam seminar di Markas Kebudayaan Abdul Mun’im Al Showi di Kairo dengan tema, "Negeri Imam Bukhari dan Kekayaan yang Terpendam di dalamnya" mengatakan, puluhan pengkaji akademisi di Rusia telah menyimpulkan, berdasarkan perkembangan yang terlihat dari negara-negara muslim pecahan Uni Soviet ini, maka pada tahun 2050 nanti negara Rusia diprediksikan akan menjadi bagian dari negara Islam.

Perkembangan itu secara signifikan terjadi di Rusia, dari segi populasi misalnya, jumlah muslim di Rusia kini mencapai 25 juta jiwa, yaitu 20% dari jumlah total penduduk. Para cendikiawan gereja Ortodox yang berada di negeri itu pun dikabarkan merasa khawatir, melihat perkembangan Islam yang begitu pesat, mereka bahkan menyebut Islam sebagai agama yang mengancam esksistensi agama mereka di sana.

Salamah kemudian menambahkan, sejak 20 tahun lalu dirinya terus mengamati perkembangan Islam di Rusia, semenjak muslim di sana berada di bawah pemerintahan yang komunis dan mengalami masa-masa pengekangan, seperti dilarangnya membawa mushaf Al Qur’an, masjid-masjid di tutup, hingga akhirnya sekarang, muslim Rusia telah mendapatkan hak-hak mereka dengan baik. Dan Islam pun kini menjadi agama kedua di negeri itu.

Salamah kemudian bercerita tentang upayanya menyebarkan Islam, ia mendirikan sebuah Universitas Islam di Moskow, dan mengajarkan tentang apa itu agama Islam, termasuk kepada para politisi senior negeri itu, diantaranya adalah Pladimar Putin, Perdana Menteri Rusia sekarang.

Dubes Mesir untuk Tajikistan; sebuah negara muslim pecahan Uni Soviet kemudian menceritakan akan semangatnya nilai keislaman di sana, diantaranya dengan diadakannya perayaan hari kelahiran Imam Abu Hanifah pada tahun 2009 lalu, pemerintah setempat kemudian mengundang para ulama dari berbagai negara anggota OKI yang dipimpin langsung oleh Syeikh Al Azhar, mereka kemudian dijamu langsung oleh Presiden Tajik, Ali Rakhmonov

Saturday, June 22, 2013

Yaqin, 'Ainul Yaqin Dan Haqqul Yaqin

Dan Ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku sudah yakin, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman: “Maka ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkanlah di atas satu bukit satu bagian dari campuran daging keempat burung itu, kemudian panggillah burung-burung itu, niscaya mereka dating kepadamu dengan segera. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al Baqarah : 260)
tauhid
Ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam ditangkap oleh Raja Namrudz karena telah menghancurkan patung-patung sembahan Raja Namrudz dan rakyatnya, beliau telah dicampakkan ke dalam api yang besar, agar beliau mati dalam kobaran api tersebut. Namun qudrat Allah telah berlaku. Terjadi dua hal yang berbeda dalam satu keadaan yang sama. Api besar yang menyala-nyala dirasakan sangat panas oleh Raja Namrudz dan seluruh rakyatnya, tetapi dalam waktu yang sama Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam merasakan sejuk yang nikmat di dalam kobaran api yang besar itu. Sampai api itu padam dengan sendirinya Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam terselamat tidak kurang suatu apapun. Sejak saat itu, Nabi Ibrahim telah yaqin kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala mampu berbuat sekehendaknya bahkan yang berlawanan sama sekali dengan hukum alam yang berlaku.

Beberapa tahun kemudian seiring dengan berjalannya waktu, Baginda Ibrahim ‘Alaihis Salam banyak mengalami berbagai peristiwa dalam kehidupannya. Sebagai seorang Rasul, keyakinan yang ada dalam dada Beliau rupanya perlu ditingkatkan lagi. Disinilah kisah yang digambarkan pada ayat 260 surat Al Baqarah diatas mulai berlaku. Nabi Ibrahim bertanya kepada Allah, “Ya Tuhan, Bagaimanakah Engkau menghidupkan sesuatu yang sudah mati ?” Pertanyaan ini dijawab dengan tegas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Apakah engkau belum yaqin ?” Padahal dalam perjalanan hidup Beliau pernah mengalami suatu peristiwa ajaib yang sama sekali tidak dapat diterima oleh akal manusia yaitu mukjizat pembakaran dirinya oleh Namrudz. Kemudian Nabi Ibrahim berkata, “Aku sudah yaqin.” Tetapi dalam hal ini Nabi Ibrahim ingin meningkatkan kualitas imannya pada tahap yang lebih tinggi yaitu ‘ainul yaqin bahkan pada tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu haqqul yaqin. Dalam kisah diatas tergambar betapa beratnya perjuangan Nabi Ibrahim untuk menaikkan tahap keyakinannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perjalanan itu dapat dilihat melalui tahapan sebagai berikut :

Perintah Allah agar mencari empat ekor burung. Pada zaman dahulu mencari empat ekor burung bukanlah pekerjaan yang mudah apalagi burung tersebut harus ditangkap hidup-hidup. Tentu jauh berbeda dengan masa sekarang ini, dimana kita dapat dengan mudah membelinya di pasar burung. Tentulah usaha Nabi Ibrahim mencari empat ekor burung tersebut sangatlah sulit dan berat serta memakan waktu yang sangat lama.

Perintah mencincang-cincang tubuh keempat burung tersebut yang kemudian dicampurkan menjadi satu bagian besar. Kemudian dipisah lagi menjadi empat bagian yang terdiri dari campuran keempat daging burung tersebut, untuk selanjutnya diletakkan ke atas empat puncak gunung. Kita tidak dapat membayangkan betapa besar penderitaan Nabi Ibrahim untuk mengantarkan keempat tumpukan daging burung tersebut ke atas empat puncak gunung. Sedangkan kita tahu letak gunung yang satu dengan lainnya biasanya sangat berjauhan. Belum lagi kesusah payahan dalam mendaki puncak gunung-gunung tersebut.

Perintah untuk memanggil keempat ekor burung itu kembali setelah meletakkan daging-dagingnya pada puncak gunung. Tentu saja perjalanan yang ditempuh sangat jauh dan penuh dengan penderitaan.

Menurut riwayat, dalam proses penyincangan keempat ekor burung tersebut Nabi Ibrahim menyimpan setiap kepala dari burung itu. Maka ketika beliau memanggil burung-burung itu, dilihatnya mereka berlari-lari mendatangi Nabi Ibrahim tanpa kepala, sebab kepalanya ada pada Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Sampai tahap ini Beliau telah mengalami peningkatan iman pada peringkat ‘Ainul Yaqin (Keyakinan karena telah melihat dengan mata). Kemudian Beliau melekatkan keempat kepala burung tersebut sesuai dengan badan mereka masing-masing. Dengan tiba-tiba Allah telah melekatkan kembali kepala sang burung seperti sedia kala. Pada saat ini sampailah beliau pada peringkat Haqqul Yaqin, yaitu peringkat iman yang sangat mantap tidak tergoyahkan lagi oleh apa pun juga.

Sebagai kaum muslimin, semestinyalah kita mengambil pelajaran dari kisah diatas ini. Tidaklah mungkin kita dapat mencapai tahap-tahap keyakinan yang mantap kepada Allah dengan hanya berleha-leha dan bersantai-santai sambil memuaskan nafsu syahwat tanpa mau berjuang bersusah payah menegakkan agama menggapai tahap keyakinan yang tinggi.

Yaqin adalah sikap hidup dan perilaku batin. Dia bukan ilmu yang dapat dikuasai hanya dengan membaca buku-buku atau tulisan-tulisan yang berkenaan Bab Keyakinan. Artinya meskipun kita telah menghapal dalil-dalil tentang yaqin diluar kepala serta mampu menceritakannya kepada orang lain dengan lancar dan mengagumkan pendengar, bukanlah berarti kita telah mencapai sikap Yaqin, apalagi ‘Ainul Yaqin bahkan yang lebih tinggi yaitu Haqqul Yaqin. Untuk mendapatkan Yaqin ini diperlukan latihan dan pengorbanan serta penderitaan dalam perjuangan menegakkan ajaran agama. Ketika sebuah perintah Allah dan Rasul-Nya kita amalkan berkali-kali dan berkali-kali sementara mata dan jiwa kita melihat hasil dari amalan kita itu ternyata sesuai dengan janji Allah dan Rasul-Nya barulah perlahan-lahan hati kita bergerak dari perasaan ragu menuju yaqin.

Sebagai contoh, Allah dan Rasul telah memerintahkan untuk bersedekah. Dan dijanjikan bagi orang yang bersedekah itu tidak akan mengalami kebangkrutan bahkan akan mendapat limpahan harta yang semakin banyak dan berkat (Hadits Rasul berbunyi: anfiq yunfiq; artinya, jika kau berinfak Allah akan berinfak kepadamu). Mungkin kita mulanya masih merasa ragu dengan hadits ini. Benarkah jika kita bersedekah, harta kita akan bertambah … ? Ternyata setelah kita melakukan sedekah itu selama bertahun-tahun dan tidak terhitung banyaknya, sementara dalam kenyataan kita melihat harta kita tidak menjadi musnah bahkan menjadi berkat dan bertambah berlimpah. Barulah secara perlahan perasaan ragu meningkat menjadi yaqin. Jika sikap Yaqin yang baru tumbuh ini terus dilatih dan dilatih dengan pengorbanan dan susah payah, ianya akan meningkat menuju tahapan ‘Ainul Yaqin bahkan pada akhirnya mencapai tahap paling ideal yaitu Haqqul Yaqin.

Semoga kiranya kita termasuk orang-orang yang terpilih sempat mencapai tahap-tahap keyakinan ini sebelum maut menjemput kita. Amiin….

Wallahu A’lam bishshowab.

Aliy Faizal

Profesor Kanada Jadi Muallaf Setelah Studi Mendalam Tentang Islam dan Al-Qur’an

kisah mualaf
Penggambaran negatif media terhadap umat Islam dan iman mereka telah mendorong seorang profesor Kanada untuk mempelajari Islam dan Alquran, dan membawanya untuk memeluk Islam.

Ketika saya datang ke Arab Saudi saya menyadari betapa salah media Barat menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan dan terorisme,” kata David Roy Woelke, seorang profesor bahasa Inggris asal Kanada di King Abdulaziz University, kepada Arab News Jumat, 30/3/2012).

Bahkan, ini adalah agama perdamaian dan persaudaraan universal.

Woelke mengucapkan Syahadat pada hari Rabu di markasWorld Assembly of Muslim Youth (WAMY). Dia mengubah namanya menjadi Dawud.

Dia mengatakan dia dibimbing ke agama Islam setelah melakukan studi banding tentang Islam dan Kristen.

“Ketika saya datang ke Kerajaan aku melihat bahwa ada perbedaan besar antara Islam yang didistorsi oleh Barat dan Islam yang sebenarnya,” katanya.

Ketika saya datang ke Arab Saudi saya menyadari betapa salah media Barat menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan dan terorisme..

“Jadi saya memutuskan untuk menggali lebih jauh tentang agama ini. Ketika saya mempelajari lebih banyak tentang Islam, Allah Subhanahu Wata’ala membimbing saya untuk memperbaiki hidup. Karena itu, saya memutuskan untuk memeluk Islam..”

Para Muslim sering digambarkan dalam media Barat sebagai orang yang kejam.

Sebuah penelitian di Inggris baru-baru ini menuduh media dan industri film mengabadikan Islamofobia dan prasangka dengan memproyeksikan Muslim sebagai kekerasan, orang-orang berbahaya dan mengancam.

Studi mendalam tentang Islam

Dawud mengatakan bahwa studi yang mendalam tentang Islam telah menuntunnya untuk memeluk Islam.

Banyak teman-teman Muslim mendorong saya untuk menerima Islam sebagai agama saya,” katanya.

Seorang salesman Pizza bilang dia ingin melihat saya segera menjadi seorang Muslim.”

Ribuan orang dari berbagai agama dan kebangsaan, terutama laki-laki dan wanita berpendidikan seperti Woelke, datang untuk masuk Islam setiap tahun..

Dawood mengatakan bahwa ia sekarang ingin memperkuat hubungannya dengan Allah Subhanahu Wata’ala setelah masuk Islam.

Agama adalah lembaga buatan manusia tetapi iman adalah hubungan antara manusia dan Tuhan,” katanya kepada Arab News.

“Saya ingin menyibukkan diri dengan mendekatkan hubungan pribadi saya dengan Allah dan tidak begitu sibuk tentang hubungan orang lain dengan Allah.”

Kabar tentang keislaman Dawud telah membuat banya warga Saudi senang.

Ribuan orang dari berbagai agama dan kebangsaan, terutama laki-laki dan wanita berpendidikan seperti Woelke, datang untuk masuk Islam setiap tahun,” kata asisten sekretaris jenderal WAMY Dr Muhammad Badahdah.

“Ada permintaan besar untuk terjemahan bahasa Inggris dari Al-Qur’an dan buku-buku Islam di toko buku. Saya yakin Islam akan hati menarik orang-orang jujur seperti Woelke. “

Friday, June 21, 2013

Akhir Alam Semesta Menurut Al-Quran

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya”. (Q.S.Al-Anbiya 104).
kebenaran islam
Dahulu, ketika Al-Qur’an al-Karim yang merupakan firman Allah SWT ini diturunkan, tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui akhir alam semesta ini dan bagaimana bentuknya. Akan tetapi, Al-Qur’an kemudian mengisyaratkan kepada kita akhir alam semesta ini dengan firman Allah SWT.

Dari ayat ini, para ulama berpendapat bahwa alam semesta ini nantinya akan kembali seperti sedia kala, ada dan akan berakhir.

PENJELASAN AYAT

Coba perhatikan lagi bunyi ayat tadi.  Ayat itu berbicara tentang akhir alam semesta, bahwa Allah SWT akan menggulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas tertulis. Kata as-sijil yang ada dalam ayat itu berarti apa yang bisa dijadikan wadah untuk menulis seperti kertas, kulit, atau tulang. Arti al-kutub adalah tulisan yang terdapat dalam sijil tadi.

Allah SWT mengumpamakan langit dengan lembaran yang tertulis, dan mengumpamakan bintang dengan huruf-huruf yang tertulis dalam lembaran-lembaran itu, ketika lembaran (atau langit) ini digulung,  maka huruf dan kalimat-kalimat (bintang, planet dan semua penciptaan langit) secara otomatis tergulung juga.

Perumpamaan yang diberikan oleh  Allah SWT ini bertujuan memberi pemahaman terhadap akal kita yang terbatas, sementara fenomena yang terjadi lebih besar dari penafsiran di atas.

FAKTA ILMIAH

Para ulama dan ilmuwan modern berpendapat bahwa alam semesta ini memiliki permulaan dan akhir. Steven Hawkin, ilmuwan yang banyak dikagumi saat ini, menyatakan bahwa kita harus mengambil pelajaran dari perjalanan ilmiah ini, yaitu akan adanya awal dari sebuah zaman.

Sebagaimana juga ilmuwan lainnya, mengatakan bahwa alam ini memiliki akhir. Para ahli astronomi berpendapat bahwa alam semesta ini kelak tak terelakkan dari krisis besar.

SISI ILMIAH MUKJIZAT AL-QUR’AN

Nah, percayakah kita tentang kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah SWT? Ternyata, Al-Qur’an sejak ribuan tahun silam, telah menyatakan bahwa alam semesta ini kelak memiliki akhirnya. Inilah mukjizat Al-Qur’an yang tak mungkin diciptakan oleh manusia.

Wallahu A’lam bishshowab.

Aliy Faizal

Akhir Kehidupan Yang Sangat Dahsyat

kisah islami
Boleh jadi otak kita saat ini dipenuhi pikiran di mana akan kuliah, di perusahaan mana akan bekerja, baju apa yang akan digunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, dll. Persoalan-persoalan yang sangat bertolak dengan akhir kehidupan manusia. Ya, apalagi kalau bukan kematian—pembicaraan tentang kematian yang kerap dilupakan atau yang terjadi hanya pada seseorang telah lanjut usia.

Tiap hari, di acara berita tau kriminal tak ayal orang-orang menyaksikan kematian orang lain tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!

Namun seperti itulah dunia, namun ingatlah ketika kita adalah seonggok daging tak bernyawa, yang kemudian akan ditimbun tanah dan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.

Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,” (QS. Al-Jumu’ah: 8).
Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.

Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.

Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi? Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting
Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya – yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.

Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.

Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan,” (QS. Al-Ankabut: 57).
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.

Wallahu A’lam bishshowab.

Aliy Faizal

Thursday, June 20, 2013

Hadist Dho'if - Menjawab Pemahaman Wahhabi

hadits
Sebagian dari kaum muslimin mendudukan hadist dho'if seperti halnya hadist maudhu' atau buatan lantas bagaimana kedudukan hadist itu sendiri dalam hukum islam dan bagaimana kita menyikapi hadist dho'if itu?

Jawab:

Hadits dho'if tidaklah sama dengan hadits maudhu'. Hadits dho'if adalah hadits yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bukan hadits yang dikarang-karang atau yang dibuat-buat oleh sembarang manusia. Hanya saja salah satu pemangkunya (sanadnya) ada yang terputus sehingga hadits itu menjadi dhoif, tapi tetap saja hadits dhoif bukan hadits palsu!

Zaman awal Islam mulai berkembang, hadits tidaklah dituliskan oleh para sahabat Nabi. Hal ini terjadi karena nabi melarang menuliskan hadits-hadits baginda yang mulia. Rasul bersabda: “La taktubul hadits!” Janganlah kamu menuliskan hadits, Uktubul Qur'an! Tuliskanlah al Qur'an. (HR Muslim).

Dengan demikian, maka hadits hanya beredar di kalangan sahabat melalui hafalan dari satu orang ke orang lain. Hal ini berlangsung sampai tahun ke-100 Hijriyah. Saat itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mulai khawatir akan perkembangan hadits. Ada jutaan orang yang sudah memeluk agama islam, dan generasi pun telah berubah, tidak lagi terdiri dari sahabat-sahabat Nabi yang terkenal sangat jujur, tapi juga telah muncul orang-orang di luar komunitas Arab yang sama sekali tidak jumpa Nabi. Dan, di antara mereka  ada yang kurang mujahadah dalam agama. Saat itu, mulailah muncul tukang-tukang penjual cerita yang di antara mereka bahkan berani mengarang-ngarang hadits, dan mengatakan bahwa hadits karangannya itu berasal dari Nabi. Hal ini ini membuat para Ulama mulai khawatir.

Akhirnya dibuatlah sebuah tindakan bid'ah hasanah oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan memerintahkan ditulisnya hadits-hadits Nabi, sesuatu yang sebelumnya merupakan hal yang sangat dilarang oleh  Baginda Nabi. (Ini membuktikan bahwa para Ulama zaman Ta'biin, yakni orang yang sempat bertemu dengan Sahabat Nabi, telah sepakat  bahwa ada bid'ah yang hasanah alias bid'ah yang baik dan akan diberi pahala oleh Allah orang yang  melakukannya. Salah satunya adalah dilakukannya penulisan dan pengumpulan hadits. Hal ini sangat bertentangan dengan faham Kaum Wahhabi, faham sekelompok kecil umat Islam yang mengatakan bahwa semua bid'ah itu adalah sesat dan semua para pelakunya kelak akan dicampakkan ke dalam neraka).

Alhamdulillah muncullah ilmu baru dalam dunia Islam yakni ilmu Musthalah  Hadits. Di antaranya adalah ilmu sanad hadits, yakni memeriksa suatu hadits itu dari orang-orang yang menghafal dan menyampaikannya terus diurut ke atas sampai kepada shahabat dan bersumber kepada Nabi. Jika para pemangkunya (sanadnya) tidak terputus, terus bersambung kepada Nabi, dan secara matan juga bagus maka hadits itu dinyatakan sebagai hadits shohih. Namun, jika ada sanad yang terputus maka hadits tersebut disebut hadits dhoif.

Saat itu jenis hadits hanya ada tiga saja, pertama hadits shohih, kedua hadits dhoif, dan ketiga disebut hadits maudhu', yang pada hakekatnya hadits palsu.

Kelak Ilmu Hadits makin maju dan berkembang dan istilah derajat hadits pun bertambah pula. Ada hadits shohih, hadits hasan lidzatihi, hadits hasan lighoirihi, hadits mutawatir lafdzi, mutawatir ma'nawi, hadits dhoif, munkar, dan maudhu' dll.

Kedudukan hadits Dho'if

Semua madzhab Imam yang Empat yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hambali sepakat bahwa hadits dhoif tidak boleh dibuang semuanya, karena hadits dhoif adalah hadits Rasulullah yang berderajat dhoif, bukan hadits maudhu'. Imam Hambali, madzhab beliau dipakai di Saudi Arabia dalam Mahkamah Syari'ah di sana, memutuskan bisa mengambil hukum dengan bersandar pada hadits dhoif sekalipun, jika saja tidak didapati ada hadits yang shohih dalam perkara tersebut. Imam Syafi'i memakai hadits dhoif sebagai penyemangat dalam beramal (fadhoilul a'mal). Demikian juga halnya Imam Hanafi dan Imam Maliki.

Sebagai contoh: Imam Hambali mengambil hukum bersentuhnya kulit antara pria dan wanita dewasa yang bukan mahrom membatalkan wudhu’. Padahal hadits ini kedudukannya dhaif, diriwayatkan dari Aisyah ra. Meskipun demikian ulama empat mazhab tidak pernah menyesatkan Imam Hambali atas tindakan beliau yang mengutip hadits dhaif sebagai dalil untuk menegakkan hukum (hujjah).

Kenapa hadits dhoif tidak serta merta dibuang? Logikanya begini!

Imam Hambali umpamanya. Beliau menghafal sejuta hadits lengkap dengan sanad-sanadnya. Namun kenyataannya, hadits yang beliau hafal itu hanya sempat dituliskan sebanyak 27.688 buah hadits. Nah, kemana perginya yang 970 ribuan hadits lagi? Semua yang tersisa itu Tentu karena TIDAK DAPAT DITULISKAN, BUKAN KARENA DIBUANG begitu saja! Hal ini disebabkan karena kesibukan sang Imam dalam mengajar sehari-hari, menjawab pertanyaan masyarakat, memberi fatwa dan juga beribadah untuk dirinya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Imam Hambali setiap malam melakukan sholat sekitar 300 rakaat banyaknya. Belum lagi karena keterbatasan peralatan saat itu. Kertas belum banyak, juga tinta dan pena masih sangat sederhana. Sementara mesin ketik, alat cetak, apalagi computer sama sekali belum ada. Sebab itulah sedikit sekali hadits yang beliau hafal itu yang sempat ditulis dan sampai kepada kita.

Namun demikian, tidaklah serta merta hadits-hadits yang tidak sempat ditulis itu terbuang dan hilang begitu saja. Para murid yang setiap hari bergaul dengan sang guru pasti sempat memperhatikan dan menghafal setiap gerak langkah sang guru. Dan, gerak langkah sang guru ini pastilah sesuai dengan tuntunan sejuta hadits yang beliau hafal di dadanya. Sehingga kelak setelah sang guru wafat para muridnya mulai menulis dalam berbagai masalah dengan rujukan perilaku atau fiil sang guru tersebut. Prilaku sang guru tersebut kemudian hari dituliskan juga sebagai hadits yang terwarisi oleh kita sehingga kini.

Dalam rangka memilah dan memilih hadits dhaif para ulama hadits empat mazhab membagi-baginya dalam berbagai bagian. Ada yang membaginya ke dalam 42 bagian, ada yang membaginya menjadi 49 bagian dan ada yang membaginya ke dalam 89 bagian. Hadits-hadits inilah yang dipilah dan dipilih dan sebagiannya dapat diamalkan juga karena dhaifnya tidak keterlaluan.

Ulama hadits bukanlah sembarangan orang. Mereka memiliki ukuran tersendiri agar masuk ke dalam golongan ulama hadits. Ada ulama hadits yang sampai derajat hafizh, yakni mereka yang telah menghafal 100 ribu hadits lengkap dengan sanad-sanadnya. Di atas derajat hafizh ada yang disebut ulama hujjah, yakni mereka yang menghafal 300 ribu hadits beserta sanad-sanadnya. Di atas kedua derajat ini ada lagi  yang dinamai hakim, yakni yang kemampuannya diatas hafizh dan hujjah. Dahsyat bukan?

Sayangnya, ada segelintir manusia akhir zaman, yang mana dia bukan seorang hafizh, bukan pula seorang hujjah apalagi seorang hakim, tetapi anehnya mereka berani bersuara lantang mengkritik dan menuduh sesat amal serta keputusan ulama-ulama hadits terdahulu. Kata mereka hadits ini dhoif, hadits itu mauhdu’, hadits ini munkar menyalahi pendapat ahli hadits tempo dulu, padahal mereka tidak pernah sekalipun bertemu dengan salah seorang pemangku (sanad) dari hadits yang mereka kritik itu. Sementara yang mereka caci itu justru orang-orang yang pernah kenal, bertemu dan bergaul langsung dengan para sanad tersebut. Lantas, ketika mereka sudah mengatakan sanad ini dan sanad itu terpercaya, tiba-tiba muncul manusia yang lahir entah zaman kapan dan hanya bermodal membaca buku di perpustakaan, seenaknya saja menyalahkan ulama-ulama hadits tempo dulu, dan merasa paling benar. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un! . Lalu mereka yang manakah yang patut kita percaya?

Sebagai contoh sebuah persoalan adalah masalah qunut shubuh. Imam Syafi’I, Imam Hakim, Imam Daruquthni, dan Imam Baihaqi sepakat mengatakan bahwa hadits qunut shubuh adalah shahih, sanadnya bagus, dan mengamalkannya adalah sunat. Tiba-tiba muncul faham  dari Kaum Wahhabi, faham manusia zaman sekarang dengan modal nekat berani mengatakan qunut shubuh itu bid’ah, dan seluruh pelakunya akan dicampakkan ke dalam neraka. Padahal, seluruh ulama Imam Empat Madzhab tidak pernah mengatakan qunut shubuh itu bid’ah meskipun mereka tidak mengamalkannya.

Sekarang terserah anda mau percaya dan mengikuti ulama hadits yang telah teruji tempo dulu, atau orang-orang nekat akhir zaman yang rusak ini yang bernama kaum Wahhabi.

Wallahu A’lam bishshowab.

Aliy Faizal

Belajar dari Lebah Untuk Menjadi Manusia Mulia

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl: 68-69)
kisah islami
Orang mukmin itu ibarat lebah, seperti dalam sabda Rasulullah,  “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah, ia makan makanan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih. Dan tidak memtahkan tempat yang dihinggapinya” (HR. Ahmad, Hakim dan Al-Bazzar).

Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan, seperti bunga-bunga atau buah-buahan yang mengandung bahan madu atau nektar, mestinya orang mukmin juga seperti itu, hanya mendatangi tempat-tempat pilihan, seperti majelis-majelis ta’lim, masjid atau tempat-tempat lain yang mendatangkan ke-ridhaan Allah.

Lebah mengeluarkan sesuatu juga yang baik, yakni madu. Madu memiliki khasiat yang baik untuk kesehatan manusia. Al qur’an dan hadist menjelaskan bahwa madu itu sangat besar  manfaatnya sebagai obat. Dan ilmu kedokteran juga telah membuktikannya.

Sifat lainnya dari lebah adalah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi, meski ranting itu rapuh sekalipun. Hendaknya kita sebagai orang mukmin juga demikian. Tidak melakukan kerusakan dalam hal apa pun. Orang mukmin bukanlah orang yang membuat kerusakan di muka bumi, seperti melakukan aksi bom bunuh diri atas nama jihad, bukan di medan perang, dan mereka membenarkan aksi itu. Yang menjadi korban orang-orang yang tidak berdosa seperti, anak-anak, wanita, orang-orang tua. Padahal dalam perang sekalipun mereka itu dilarang untuk dibunuh. Membunuh seorang manusia tanpa hak (tidak melalui pengadilan) dosanya seperti membunuh manusia sedunia.

Sifat lebah yang tidak disebutkan dalam hadis di atas adalah lebah tidak akan mengganggu jika  tidak diganggu. Tetapi jika diganggu akan melawan sampai mati. Hendaknya sebagai mukmin kita bersikap demikian, tidak mencari musuh tapi ketika musuh datang kita tidak lari.

Saat agama dan Negara diganggu umat Islam wajib membela hingga tetes darah terakhir jangan malah mengungsi atau melarikan diri
“Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.” (QS. Isra’: 70)
Manusia yang beriman lebih mulia dan sempurna dibanding makhluk-makhluk lain, seperti malaikat dan hewan, namun ketika jauh dari agama, maka bisa lebih hina dari binatang dan jika benar taat dan tunduk pada agama maka kedudukan bisa lebih mulia dari malaikat.

Wallahu A’lam bishshowab.

Aliy Faizal
 
Top