kisah islami
Demikianlah Bilal bin Rabbah dan Abdullah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhuma, muadzin Nabi Muhammad SAW, kesempurnaan ittiba‘ dan mahabbahnya kepada Rasulullah SAW telah menghantarkan keduanya kepada kedudukan yang tinggi di sisi Tuhannya.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, dalam kitab Risalah al-Mu‘awanah wa al-Muzhaharah wa al-Mu’azarah li ar-Raghibin min al-Mu’minin fi Suluk Thariq al-Akhirah, berkata, “Siapa pun yang tidak bersungguh-sungguh berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW dan tidak mencurahkan segala daya upayanya untuk mencontoh dan mengikuti Rasulullah SAW, sedangkan orang tersebut mengaku bahwa dirinya memiliki kedudukan tertentu di sisi Allah SWT, janganlah engkau menolehkan padangan kepadanya dan jangan pula mendatanginya, meskipun orang itu dapat terbang di angkasa, berjalan di atas air, menempuh jarak yang jauh dalam sekejap, dan memiliki banyak keanehan yang luar biasa. Karena yang demikian itu banyak terjadi pada setan, tukang-tukang sihir, dukun-dukun, paranormal, ahli nujum, dan selain mereka dari kalangan orang-orang yang sesat.

Hal semacam itu tidaklah keluar dari bentuk-bentuk istidraj (keluarbiasaan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang durhaka) dan talbis (tipu daya), dan sama sekali bukanlah bagian dari karamah atau ta’yid (pertolongan) dari sisi Allah SWT. Orang-orang yang tertipu dan yang semacamnya seperti ini tidak lain adalah mengikuti orang-orang bodoh dan hina yang menyembah Allah SWT dengan keraguan.

Adapun orang-orang yang berakal dan pemilik hati yang jernih, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa perbedaan derajat dan kedudukan orang-orang yang beriman dalam kedekatannya kepada Allah SWT berdasarkan perbedaan mereka dalam berittiba‘ kepada Rasulullah SAW. Makin sempurna seseorang dalam berittiba‘ kepada Rasulullah SAW, kedekatannya kepada Allah SWT makin sempurna pula dan ma’rifah kepada-Nya pun makin besar dan agung.”

Demikianlah sudah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa ittiba‘ (mengikuti) kepada Rasulullah SAW menjadi ukuran kemuliaan bagi seseorang dalam Islam.

Demikianlah Bilal bin Rabbah dan Abdullah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhuma, muadzin Nabi SAW, kesempurnaan ittiba‘ dan mahabbahnya kepada Rasulullah SAW telah menghantarkan keduanya kepada kedudukan yang tinggi di sisi Tuhannya.

Pada suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah SAW, Bilal bin Rabbah bermimpi bertemu Rasulullah SAW.

Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” demikian Rasulullah SAW berkata dalam mimpi Bilal.

Wahai Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu,” kata Bilal.

Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja dan Bilal terbangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Hatinya dirundung rindu yang menggelayut di segenap pikiran dan hatinya, hingga dadanya seolah tak kuasa menahan dahsyatnya getaran rindu malam itu setelah mimpi bertemu Rasulullah SAW.

Keesokan harinya, Bilal menceritakan mimpi tersebut kepada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah.

Hari itu, Madinah benar-benar diselubungi rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah SAW masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah SAW tiada. Satu per satu mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu. Dan Bilal sama seperti mereka, diharu biru oleh kenangan dengan Nabi SAW tercinta.

Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan maghrib jika tiba waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah SAW tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal.

Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu.

Senja pun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan.

Tatkala suara Bilal terdengar, seketika Madinah seolah tersekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah menitiskan air mata.

Marhaban, wahai Rasulullah,” bisik salah seorang di antara mereka.

Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah SAW wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Rasulullah, Muhammad SAW, Bilal mengumandangkan adzan.

Jenazah Rasulullah SAW saat itu belum dimakamkan. Satu per satu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah”,  tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah SAW pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.

Setelah Rasulullah SAW dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan.

Adzanlah, wahai Bilal,” perintah Abu Bakar.

Bilal pun berkata, “Jika engkau dulu membebaskan diriku demi kepentinganmu, aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, biarkan aku menentukan pilihanku.

Hanya demi Allah aku membebaskanmu, Bilal,” kata Abu Bakar.

Maka biarkan aku memilih pilihanku. Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah SAW,” kata Bilal melanjutkan.

Kalau demikian, terserah apa kehendakmu,” jawab Abu Bakar.

Budak Hitam

Bilal bin Rabah Al-Habasyi, demikianlah namanya. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Bilal lahir di daerah As-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia berpostur tinggi, kurus, warna kulitnya hitam, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat.

Ibunya adalah hamba sahaya (budak) milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak mereka hingga akhirnya ia mendengar ihwal Islam. Lalu, ia menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan diri masuk Islam.

Dalam riwayat yang termasyhur disebutkan bahwa Umayyah bin Khalaf pernah menyiksa dan membiarkannya dijemur di tengah gurun pasir selama beberapa hari. Di perutnya, diikat sebuah batu besar dan lehernya diikat dengan tali. Lalu, orang-orang kafir menyuruh anak-anak mereka untuk menyeretnya di antara perbukitan Makkah.

Saat berada dalam siksaan itu, tiada yang diminta Bilal kepada para penyiksanya, ia hanya memohon kepada Allah. Berkali-kali Umayyah bin Khalaf menyiksa dan memintanya agar meninggalkan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, namun Bilal tetap teguh pendirian.

Lisannya hanya berucap, “Ahad... Ahad....

Derita yang semakin berat menimpa Bilal itu disaksikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan beliau pun lalu memerdekakannya.

Setelah merdeka, Bilal mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ke mana pun Rasul SAW pergi, Bilal senantiasa berada di samping Rasulullah. Karena itu pula, para sahabat Nabi SAW sangat menghormati dan memuliakan Bilal, sebagaimana mereka memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW.

Saat Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, Bilal pun turut serta bersama kaum muslim lainnya.

Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah SAW mensyari’atkan adzan. Rasulullah SAW kemudian menunjuk Bilal untuk mengumandangkan adzan, karena ia memiliki suara yang merdu. Lalu, Bilal mengumandangkan azan, sebagai pertanda dilaksanakannya shalat lima waktu. Sejak saat itu, Bilal mendapat julukan Muadzdzin ar-Rasul (Muadzin Rasul SAW) dan ia menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam.

Ketika membebaskan kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah SAW berjalan di depan pasukan muslim bersama Bilal. Saat masuk Ka’bah, beliau hanya ditemani tiga orang sahabat, yaitu Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah.

Tak lama kemudian, waktu shalat Zuhur pun tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, termasuk orang-orang kafir Quraisy yang baru masuk Islam saat itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan adzan. Tanpa menunggu perintah kedua, Bilal segera beranjak dan melaksanakan perintah tersebut dengan senang hati. Ia pun mengumandangkan adzan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Orang-orang semakin banyak berkumpul. Adzan yang dikumandangkan Bilal itu merupakan adzan pertama di Makkah.

Sejak saat itu, Bilal pun semakin terkenal lagi sebagai muadzin Rasulullah SAW. Bahkan, ia menjadi muadzin tetap saat Rasulullah SAW masih hidup.

Wallahu A’lam Bishshowab

0 komentar:

Post a Comment

 
Top