manakib
Manaqib Al Ustadz Al Habib Hadi Bin 'Alwi Bin Hasan Al Kaff

Beliau lahir di Malang pada 29 Juni 1947, beliau adalah putra Habib ‘Alwi bin Hasan Al Kaff yang ke-16 dari 31 bersaudara. Ibunda beliau bernama Syarifah Futum, putri dari Habib ‘Abdurohman bin ‘Ali bin Syech Abu Bakar bin Salim. Jadi Habib Hadi Al Kaff ini masih termasuk cucu dari Habib ‘Abdurohman bin Syech Abu Bakar bin Salim, seorang ‘ulama yang terkenal sebagai ulama yang sholeh dan perintis gerakan dakwah ke desa-desa sekitar Malang. Gerakan dakwah Habib ‘Abdurohman ini dilanjutkan oleh menantu cucu beliau,Al Ustadz Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus.

Habib Hadi mengenyam pendidikan Madrasah di Pondok Pesantren Darul Hadits Malang yang diasuh oleh Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih dari tahun 1953 - 1967. Habib Hadi Al Kaff sebenarnya punya kesempatan untuk belajar di Madinah namun, karena Pemerintah Republik Indonesia pada waktu itu melarang pelajar Indonesia untuk berangkat ke Saudi, kecuali yang mempergunakan beasiswa pemerintah. Akhirnya beliau mengaji ilmu Nahwu selama kurang lebih dua tahun (1967-1969) secara private kepada Habib ‘Abdurohman bin Muhammad Mauladawilah di rumah beliau, di samping masjid Al-Huda Malang setiap usai sholat Subuh. Kitab yang diajarkan pada waktu itu adalah Jumriyah, Syaroh Ibnu Dahlan, Kafrowy dan Kawakib.

Selain belajar pada Habib ‘Abdurohman, pada tahun itu juga Habib Hadi Al Kaff belajar secara private kepada Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus. Habib Hadi Al Kaff mengaku sangat terkesan dengan metode mengajar dari Habib ‘Alwi, “Beliau adalah seorang guru yang ‘alim, luas, tawadhu’ lagi bijaksana. Pernah beliau mendengar ada yang mengatakan bahwa, Habib Hadi Al Kaff tidak punya Syeikh (guru pembimbing). Beliau spontan marah seraya berkata,’Katakan pada mereka bahwa,’saya adalah Syeikh dari Habib Hadi’. Mendengar pengakuan dari Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus, Habib Hadi Al Kaff sangat gembira atas pernyataan tersebut. Habib ‘Alwi Al ‘Aydrus juga berpesan kepada Habib Hadi Al Kaff untuk lebih memantapkan hatinya, ”Kalau kamu takholluq (berpegangan dengan guru, biasanya seorang syekh) ini insya allah, kamu akan dibimbing. Meskipun seorang guru (syeikh) itu telah meninggal. Jadi seorang murid tetap punya hubungan bathin.”

Setelah gagal berangkat ke Saudi, Habib Hadi Al Kaff kemudian menyibukan diri bekerja membantu ayandanya ke Lombok (Nusa Tenggara Barat) sampai tahun 1974. Baru pada tahun 1975 beliau berangkat ke Saudi dengan diantar langsung oleh Habib Muhammad bin Ahmad Al ‘Aydrus di Madinah. Sayang, saat itu tahun ajaran baru sudah dimulai. Beliau akhirnya disuruh menunggu beberapa bulan sampai menunggu tahun ajaran baru. Habib Hadi Al Kaff akhirnya belajar bahasa Inggris di American School. Karena kesibukan kerja antara 1976-1979, akhirnya Habib Hadi Al Kaff tidak sampai berfikir lagi untuk menuntut ilmu di Madinah.

Pada tahun 1979 beliau pindah ke Khobar, di kota yang terletak belahan utara Mekkah itu beliau mengumpulkan jama’ah dari pekerja-pekerja yang dari Indonesia untuk belajar agama dan sesekali rutin membaca maulid. “Alhamdulilah, sembari bekerja juga bisa belajar sendiri dan juga mendatangi pengajian,”

Selama di Saudi, Habib Al Kaff belajar sendiri dengan bertakholluq kepada Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih, Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus dan Habib ‘Abdurrohman bin Muhammad Mauladawilah. Sekalipun belajar sendiri, beliau juga terkadang menghadiri acara-acara keagamaan yang digelar di Saudi, seperti peringatan maulid, Khataman Bukhori, silaturahmi halal bi halal dan lain-lain.

Pada tahun 1992, Habib Hadi Al Kaff mau pulang ke Indonesia. Saat itu tanggal 27 Ramadhan ada khatam Bukhori di Masjid Nabawiy, datang para Habaib dari sekitar Saudi. Selepas shalat Ashar ada pengajian Habib Sholeh Al Muhdor. Acara ini tergolong acara yang beasr karena banyak dihadiri ulama-ulama besar seperti Syekh ‘Abdul Qodir bin Ahmad, Sayyid Muhammad bin ‘Alwi Al Maliki, Habib Zein bin Smith dan dari luar Saudi pun banyak yang hadir.

Kebetulan saat itu Habib Hadi Al Kaff datang bersama salah satu teman akrabnya yakni Habib Hasan bin ‘Abdullah Asseggaf. Habib Hasan Asseggaf sudah lama tinggal Saudi, sehingga beliau banyak mengenalkan Habib Hadi AL Kaff dengan para Habaib yang hadir selepas shalat Magrib. Salah satu diantaranya adalah berkenalan dengan Habib ‘Alwi Bilfagih (pengarang kitab-kitab sejarah dan nasab).

Saat itu ‘Habib Alwi Bilfagih saat itu juga sedang mengajar kepada murid-muridnya dan juga ada seorang tua yang sedang menulis. Habib Hasan Asseggaf kemudian mengenalkannya kepada Habib ‘Alwi Bilfagih, ”Ini Hadi Al-Kaff dari Malang.”

Kemudian Habib ‘Alwi Bilfagih menyalami Habib Hadi Al Kaff. “Kenal Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qodir Bilfagih dari Malang?” tanya Habib ‘Alwi Bilfagih kepada Habib Hadi Al Kaff.

“Itu adalah guru saya,” kata Habib Hadi AL Kaff.

“Syeikhi? (gurumu)?” tanyanya dengan penuh keterkejutan.

“Saya adalah murid dari Syeikh ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih,” kata Habib Hadi kepada Habib ‘Alwi.

“Tunggu dulu,” kata Habib ‘Alwi terburu-buru kepada Habib Hadi dan Habib Hasan untuk jangan beranjak dari majelis, karena beliau akan menyelesaikan urusan dengan orang tua yang duduk tidak jauh dari mereka bertiga.

Tidak berapa lama kemudian, Habib ‘Alwi kembali lagi dan kemudian berkata kalau Habib ‘Abdul Qodir adalah saudara dekatnya. “Itu adalah saudara ayah saya, tapi saya belum jumpa,” katanya.

Kemudian Habib ‘Alwi memaksa tangan Habib Hadi, ”Mana tanganmu?”
Lalu Habib Hadi karena dipaksa kemudian memberikan tangannya untuk dicium oleh Habib ‘Alwi. Artinya, Habib ‘Alwi sangat menghormati Habib ‘Abdul Qodir sampai sedemikian rupa, sampai-sampai salah satu muridnya yang pernah pernah belajar kepada Habib ‘Abdul Qodir pun diciumnya.

Sampai di hotel, Habib Hadi bertanya pada Habib Hasan,”Tadi, orang tua yang bertubuh kurus dan duduk di majelis Habib ‘Alwi itu siapa?”

“Itu adalah Habib Zein bin Smith (Madinah),” kata Habib Hasan.

Habib Hadi tentu terkejut, karena Habib Zein bin Smith ternyata sedang belajar kepada Habib ‘Alwi Al Kaff yang baru ditemuinya.

Setelah hari kedua lebaran, para habaib mengadakan silaturahim di hotel Haromain. Setelah acara, Habib Hasan mengenalkan lagi Habib Hadi pada yang hadir, termasuk kepada Habib Zein bin Smith. “Ini Habib Hadi Al Kaff, tholib ilm’,” kata Habib Hasan.
“Di mana kamu belajar?” tanya Habib Zein bin Smith kepada Habi Hadi Al Kaff.
“Saya tidak belajar. Saya bekerja di Khobar,” jawab Habib Hadi.

Habib Hasan berkata lagi, ”Dia belajar sendiri di rumahnya.”

“Tidak boleh. Kalau belajar agama tidak bisa belajar sendiri kecuali dengan belajar kepada syeikh (untuk membimbing). Kalau kamu belajar ilmu umum, seperti bumi, sejarah, kamu bisa belajar sendiri,” kata Habib Zein.

Habib Hadi terdiam, tapi Habib Hasan berkata lagi kepada Habib Zein,”Ya Habib, ia dulu pernah belajar pada Habib ‘Abdul Qodir Bilfagih.”

“Benar?” tanya Habib Zein.

“Ya Habib,” jawab Habib Hadi.

Habib Zein kemudian tertunduk sebentar, tidak langsung jawab. Kemudian beliau berkata, ”Karena kamu sudah pernah belajar pada Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih. Kamu boleh belajar sendiri,” kata Habib Zein kepada Habib Hadi.

Setelah mendapat bisyaroh (isyarat kabar gembira) dari seorang ‘alim. Habib Hadi semakin yakin, kalau selama ini dengan belajar sendiri mempelajari kitab-kitab salaf yang ada di sana masih dalam koridor bimbingan dari guru-gurunya, walaupun guru-gurunya itu telah lama wafat.

Setelah menetap lama di negeri Saudi, pada tahun 1992 beliau pulang ke Indonesia. Saat itu beliau tinggal di Jl. Lontar Atas, Jakarta, sambil berdagang Habib Hadi juga berdakwah dari masjid ke masjid dan taklim di sekitar rumahnya selama kurang lebih lima tahun.

Pada tahun 1997, beliau kemudian dipanggil sang mertua, Habib ‘Ali bin ‘Umar Baharun di Bondowoso untuk mengelola majelis taklim. beliau kemudian mengajar sekitar 4 tahun, beliau meninggal. Pada tahun 2002, beliau berfikir untuk kembali ke Jakarta. Tapi saat singgah di Malang, Habib Hadi bertemu dengan Habib Muhammad bin Agil Ba’Agil pemimpin majelis taklim Al-Hidayah (Malang).

“Kebetulan kamu datang, sekarang saya serahkan majelis taklim ini kepada kamu,” kata Habib Muhammad.

“Ya, Habib. Sekarang saya di Bondowoso,” kata Habib Hadi.

“Kamu pindah ke Malang,” perintah Habib Muhammad.

Karena teman akrab, satu kelas di Darul Hadits akhirnya Habib Hadi mulai tahun 2002 mulai tinggal di Malang pengasuh Majelis Taklim Al-Hidayah. Majelis Taklim Al-Hidayah sendiri diketuai oleh Habib Agil bin Agil Ba’agil, Habib ‘Ali Haidar Al Hamid.

Habib Hadi di Kota Apel itu juga mengasuh Majelis Taklim Al-Mukhlisin tiap malam minggu ba’da Magrib (ibu-ibu) dan selepas Isya (untuk bapak-bapak). Acara berlanjut selepas Subuh. beliau juga masih mengajar tafsir Jalalain dan An-Nashoih Diniyah di Madrasah yang didirikan oleh Ustadz ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus di Bumiayu (Malang) seminggu tiga kali; Sabtu, Senin dan minggu. Selain itu beliau mengajar di masjid-masjid di sekitar Malang.

beliau sebenarnya sering diminta mengajar di Pesantren Darul Lughoh Wa’Da’wah (Bangil, Pasuruan) dan Darut Tauhid, tapi selama ini masih sangat berat. “Soalnya, waktunya pagi. Itu berat sekali, karena kalau malam sudah habis untuk berdakwah sehingga jarang tidur,” kata Habib Hadi.

Beliau juga sering diminta oleh teman-temannya untuk menterjemahkan Shohih Sifatu Sholatul Rosulullah Saw. Mina Takbir Wa Taslim Ka’annaka Tanduru ilayya (sifat sholat Rosulullah Saw. sejak takbir hingga salam seolah-olah kamu menyaksikan sendiri) karangan Habib Hasan bin ‘Ali Assegaf (Yordania). Sudah banyak orang meminta untuk menterjemahkan kitab yang sering dibawakannya. ”Insya Allah, kalau ada waktu tepat akan segera diterbitkan,” kata beliau.

0 komentar:

Post a Comment

 
Top